DNA Kelinci Belang Sumatra Yang Mati Di Uji Tim Ahli Biologi Unand

Kelinci belang sumatera Dalam Kondisi Sudah Mati. Foto/M. Ryan Maulana
Kelinci belang sumatera Dalam Kondisi Sudah Mati. Foto/M. Ryan Maulana
Sumber :

Padang – Tim ahli dari Laboratorium Genetika dan Molekuler Universitas Andalas (Unand), kini sedang melakukan penelitian ilmiah secara genetik dan morfologis terhadap satwa kelinci belang sumatera yang mati saat masih dalam proses rehabilitasi beberapa waktu lalu. 

Tujuannya, untuk melihat atau mengetahui kaitan atau kekerabatan satwa langka ini dengan spesies lainnya. Termasuk juga, untuk melihat asal-usulnya dan kekhasan genetiknya. Lalu, memastikan kembali apakah kelinci belang Sumatra yang memiliki nama latin Nesolagus Netscheri ini merupakan satwa endemik di Sumatra, atau bukan.

“Jurusan Biologi Universitas Andalas turut andil melakukan penelitian ilmiah secara genetik dan morfologis ini. Penelitinnya sedang berlangsung. Kajian genetiknya, melalui analisis DNA sampel darah dan organ dalam. Serta, pembuatan spesimen fisik dari kelinci untuk kajian morfologi,”kata asisten kurator museum Zoologi Unand, Ahmad Fakhri, kamis 23 Juni 2022.

Fakhri mengatakan, selain melakukan penelitian dan kajian serta analisis dari DNA sampel darah dan organ dalam satwa ini, tim ahli dari Vertebrata Museum Zoologi Unand yang dikomandoi langsung oleh Heru Handika, alumni Biologi Unand yang sedang menempuh studi S3 di Lousiana State University, Amerika Serikat itu, juga akan membuat spesimen tulang dan kulit. Artinya, satwa ini akan menjadi bagian dari koleksi Museum Zoologi.

Spesimen kulit yang ditempatkan di Museum Zoologi Biologi UNAND. Foto/Ahmad Fakhri

Spesimen kulit yang ditempatkan di Museum Zoologi Biologi UNAND. Foto/Ahmad Fakhri

Photo :
  • 215

“Pembuatan spesimen tulang ini, dikerjakan oleh tim spesimen tulang jurusan biologi dan pembuatan spesimen kulit dilakukan oleh tenaga ahli dari tim Verteb Muzo. Ini nantinya, akan dijadikan sebagai bagian dari koleksi dari Muzo,”ujar Ahmad Fakhri.

Ahmad berharap, jika seluruh tahapan penelitian dan analisis DNA sampel darah dan organ dalam serta proses pembuatan spesimen tulang dan kulit ini selesai, maka bisa melahirkan referensi dan pengetahuan yang baru untuk kajian konservasi dan keanekaragaman hayati melalui kajian genetik.

Ahmad Fakhri menambahkan, Muzo Biologi Unand merupakan sarana untuk kepentingan penelitian, dan pengabdian bagi seluruh mahasiswa jurusan Biologi Unand baik mahasiswa baru, pra-penelitian dan penelitian maupun mahasiswa tugas akhir. 

Selain itu, laboratorium ini juga dapat digunakan oleh dosen atau institusi lain yang ingin melakukan penelitian dan identifikasi hewan. Museum ini, juga punya misi yaitu melaksanakan pengumpulan dan pendokumentasian keanekaragaman hewan tropis untuk mendukung praktik dan penelitian taksonomi hewan dan memberikan pelayanan identifikasi dan deskripsi satwa bagi pihak lain yang berkepentingan.

Duka Mendalam Bagi Dunia Konservasi

 

Proses Skinning kelinci belang sumatera. Foto/Islami Annisa

Proses Skinning kelinci belang sumatera. Foto/Islami Annisa

Photo :
  • 217

 

Diceritakan Ahmad Fakhri pada 9 Juni 2022 lalu, masyarakat dan pengamat konservasi di Sumatera Barat, dikejutkan dengan penemuan seekor kelinci belang sumatera oleh Kelompok Sadar Wisata Saniangbaka, Kecamatan X Koto, Kabupaten Solok. 

Kelinci tersebut, ditemukan dengan kondisi tubuh yang kurang sehat dan penuh dengan caplak. Usai diserahkan kepada Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Sumatra Barat Seksi Konservasi Wilayah III, satwa ini kemudian di titipkan dan dirawat secara intensif di yayasan Kalaweit pada 11 Juni 2022.

Sebelumnya dibawa ke Kalaweit, kelinci belang Sumatra ini juga sudah mendapatkan penanganan dan perawatan pertama dari dokter hewan di Solok untuk penanganan pertama, Namun, pada 12 Juni 2022 pukul 07.30 WIB, kelinci ini mengalami syok dan kejang-kejang dan akhirnya dinyatakan mati pada pukul 12.30 WIB. 

Tim medis Yayasan Kalaweit pun kata Ahmad, melakukan nekropsi guna mengetahui penyebab pasti matinya kelinci belang sumatera ini. Berdasarkan hasil nekropsi, diketahui kematian kelinci tersebut diakibatkan oleh infeksi luka pada bagian punggung, anemia, dan stress.

“kasus kematian kelinci belang sumatra ini, merupakan duka mendalam bagi dunia konservasi. Terutama, karena belum sempat dilakukan observasi dan penelitian lebih lanjut untuk memperoleh informasi yang lebih banyak,”tutup Ahmad Fakhri.