Jerat Liar Tanpa Aturan: Senjata Murah yang Perlahan Membunuh Satwa di Sumbar

Tim gabungan BKSDA Sumbar, COP dan Pagari mengevakuasi harimau sumatra yang terkena jerat di Jorong Lima Sumpadang, Nagari Padang Mantigi Utara, Kecam
Sumber :
  • BKSDA Pasaman

Padang – Kasus Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang terluka bahkan tewas akibat terkena jerat kembali berulang di Sumatera Barat (Sumbar). Maraknya penggunaan jerat oleh masyarakat dan pemburu liar yang tidak diimbangi dengan regulasi ketat, kini menjadi ancaman paling mematikan bagi kelangsungan hidup satwa dilindungi tersebut.

img_title Sensasi Baru Menikmati Rendang: Resep Kelezatan Roti Randang Padang yang Populer

Catatan hitam konflik satwa ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada November 2025, seekor harimau terperangkap di perkebunan warga di kawasan Bukit Koto Tabang, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam. Jauh sebelum itu, pada Maret 2025, harimau lain terpaksa dievakuasi menggunakan kandang jebak oleh BKSDA Sumbar di hutan Nagari Tigo Balai, Matur, Agam. Bahkan, pada 25 Juli 2024, satu individu harimau dilaporkan mati mengenaskan akibat luka jerat yang parah.

Pakar Satwa Liar, Dwi Nugroho Adhiasto, menegaskan bahwa jerat telah menjadi ancaman utama satwa liar di habitat aslinya. Kemudahan akses dan biaya yang murah membuat alat ini digunakan secara masif tanpa ada aturan hukum yang mengikat peredarannya.

img_title Pemprov Sumbar Minta Kota Padang Transformasi Kekuatan Kuliner Jadi Mesin Ekonomi Dunia

“Jerat itu bisa dari bahan apa saja, mudah dibuat, dan murah, dibandingkan senjata rakitan ataupun kandang jebak. Selain itu, jerat bisa dipasang secara massal dengan metode macam-macam,” ujar Dwi saat dihubungi.

Menurut Dwi, berulangnya kasus harimau yang terjerat menjadi indikasi kuat bahwa alat tangkap ini marak dipasang di kawasan hutan maupun perbatasan kebun warga. Ironisnya, upaya mitigasi saat ini belum sebanding dengan masifnya produksi jerat. Petugas patroli sapu jerat kalah jumlah dan kalah cepat dengan para pemasang di lapangan.

img_title Gulai Hiu, Kuliner Pesisir Pasaman Barat yang Kaya Rempah dan Cita Rasa Minang

Oleh karena itu, Dwi mendesak pemerintah segera menerbitkan regulasi khusus terkait penggunaan dan peredaran jerat. Regulasi ini bisa berupa pelarangan total jenis jerat yang membahayakan satwa besar seperti harimau, hingga pengawasan ketat terhadap distributor atau industri rumahan (home industry) pembuatnya.

Senada dengan itu, Ekolog Satwa Liar, Sunarto, menyebutkan bahwa krisis jerat ini tidak hanya terjadi di Sumatera, tetapi juga menjadi isu global di Kalimantan hingga negara-negara Asia Tenggara lainnya, khususnya wilayah Indochina. Berbagai studi ilmiah telah membuktikan bahwa jerat adalah salah satu pemicu utama penurunan drastis populasi satwa liar.

Halaman Selanjutnya
img_title