Taman Kehati Tirta Investama Jadi Koridor Migrasi Penting Avifauna di Tanah Minang
- Ist/Youtube
Padang – Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) PT. Tirta Investama (Aqua) Pabrik Solok, Sumatera Barat, kini menjelma sebagai lanskap potensial bagi perlindungan avifauna alias burung di Tanah Minang.
Kawasan konservasi mandiri ini membuktikan bahwa area korporasi mampu bertransformasi menjadi harapan rumah baru yang menyediakan daya dukung lingkungan optimal bagi kelangsungan hidup berbagai spesies burung.
Potensi besar kawasan ini tercermin dari struktur vegetasinya yang rapat dan kondisi ekosistem yang terjaga, menjadikannya zona ramah bagi satwa liar di tengah ancaman fragmentasi habitat yang kian masif.
Kondisi ideal tersebut mendorong Kelompok Pemerhati Aves (KPA) Ducula Bicolor dari Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat untuk melakukan kajian monitoring secara intensif.
Ketua Tim Peneliti KPA Ducula Bicolor, Azmi, mengungkapkan bahwa riset awal di lapangan menunjukkan fakta menarik mengenai kekayaan potensi habitat di Taman Kehati, yang dibuktikan dengan teridentifikasinya dua spesies burung dilindungi.
Kehadiran Elang Ular Bido (Spilornis cheela) yang bertindak sebagai predator dan Takur Bukit (Psilopogon oorti) sebagai pemakan buah mengonfirmasi bahwa kawasan ini memiliki rantai makanan sehat serta fungsi hutan yang berjalan sangat baik.
Daya tarik ekologis Taman Kehati Aqua Solok ini kian diperkuat dengan temuan variasi spesies baru yang memanfaatkan area hijau industri tersebut sebagai ruang jelajah harian mereka.
"Tim peneliti mencatat adanya keberadaan Takur Ungkut-ungkut (Psilopogon haemacephalus), Ciung Batu Siul (Myophonus caeruleus), hingga Burung Madu Kelapa (Anthereptes malacensis) yang beraktivitas secara alami," ujar Azmi, Kamis (16/7/2026).
Secara ekologis, manfaat terbesar dari keberadaan Taman Kehati ini adalah fungsinya sebagai tempat bersarang (nesting site), mencari makan (foraging area), sekaligus tempat berlindung satwa di luar kawasan hutan konservasi milik negara. Keunggulan ini menjadikannya koridor penyelamat bagi jalur migrasi lokal burung di wilayah Kabupaten Solok dan sekitarnya.
Menurut Azmi, penelitian lapangan berkelanjutan yang melibatkan lima mahasiswa kehutanan UM Sumbar ini merupakan langkah strategis untuk memetakan potensi keanekaragaman hayati secara ilmiah.
Dengan tetap menerapkan standar operasional keselamatan kerja (K3) yang ketat, tim peneliti menyusuri zona-zona hijau perusahaan guna mendokumentasikan berbagai jenis burung yang hidup berdampingan secara harmonis dengan aktivitas industri.