Jejak Anwar St. Pamoentjak: Putra Minang di Balik Lahirnya Persib Bandung
- VIVA soccer
Padang – Nama Persib Bandung identik dengan identitas Jawa Barat dan budaya Sunda yang kental. Namun, jika menilik jauh ke belakang pada masa awal pembentukannya, terselip fakta sejarah menarik mengenai keterlibatan tokoh perantau asal Minangkabau. Ia adalah Anwar St. Pamoentjak, sosok intelektual yang menjadi motor penggerak lahirnya klub berjuluk Maung Bandung tersebut.
Pada awal 1930-an, peta sepak bola di Bandung masih terkotak-kotak. Terdapat dua organisasi besar, yakni Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) dan Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (PSIB). Perpecahan ini dinilai menghambat kemajuan sepak bola pribumi di tengah dominasi klub-klub bentukan Belanda.
Melihat kondisi tersebut, Anwar St. Pamoentjak muncul sebagai penengah. Berbekal semangat persatuan nasionalis yang sedang membara pasca-Sumpah Pemuda, ia menginisiasi peleburan dua organisasi tersebut. Melalui diplomasi yang apik, pada 14 Maret 1933, BIVB dan PSIB resmi bersatu membentuk nama baru: Persib (Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung).
Anwar St. Pamoentjak kemudian didapuk sebagai Ketua Umum (Presiden) pertama Persib. Di bawah kepemimpinannya, Persib bukan sekadar klub olahraga, melainkan alat perjuangan politik melawan kolonialisme. Uniknya, meski berdarah Minangkabau, Anwar mampu merangkul para pemuda Sunda untuk bersatu dalam satu wadah organisasi yang solid.
Keterlibatan tokoh Minang dalam sejarah Persib ini membuktikan bahwa sejak dulu, Bandung adalah kota yang inklusif dan kosmopolitan. Anwar membawa etos kerja dan kemampuan organisasi khas perantau Minang yang kemudian dipadukan dengan militansi pemuda lokal Bandung.
Sayangnya, nama Anwar St. Pamoentjak sering kali tenggelam dalam narasi besar sejarah klub. Padahal, tanpa keberaniannya melakukan fusi organisasi di masa sulit, wajah Persib yang kita kenal hari ini mungkin tidak akan pernah ada.
"Beliau adalah bukti bahwa Persib dibangun di atas fondasi keberagaman dan semangat kebangsaan, bukan sekadar sentimen kedaerahan," ujar salah satu pengamat sejarah olahraga di Bandung.
Kini, setelah hampir satu abad berlalu, warisan Anwar St. Pamoentjak terus hidup dalam setiap laga yang dijalani Persib. Semangat penyatuan yang ia bawa dari tanah Sumatera ke Paris van Java tetap menjadi ruh utama bagi jutaan pendukung setia Persib, Bobotoh, di seluruh dunia.