Bojan Hodak Pasang Badan, Sebut Tuduhan Rasisme Bhayangkara FC Memalukan
- ileague
Padang – Marc Klok, dituding melakukan tindakan rasisme terhadap pemain Bhayangkara FC. Tak ingin isu bola salju ini terus menggelinding liar, Klok akhirnya angkat bicara dan memberikan klarifikasi menohok terkait insiden di lapangan hijau tersebut.
Marc Klok menegaskan bahwa tuduhan yang diarahkan kepadanya adalah murni kesalahan persepsi atau salah dengar. Dalam pengakuannya, Klok menjelaskan bahwa kalimat yang ia lontarkan adalah instruksi teknis, bukan cercaan fisik atau warna kulit.
"Saya sangat kecewa dengan tuduhan ini. Saya tidak pernah mengatakan kata rasis. Apa yang saya ucapkan adalah Give me the ball back!. Namun, mereka (Bhayangkara FC) menganggap saya mengucap 'Black'. Ini dua hal yang sangat berbeda," ujar Klok dengan nada kecewa.
Pemain naturalisasi asal Belanda ini juga menyayangkan sikap Manajer Bhayangkara FC, Sumardji. Menurut Klok, Sumardji terus-menerus membangun narasi bahwa dirinya adalah seorang rasis tanpa mencoba mendengarkan penjelasan dari sisi pemain terlebih dahulu.
"Pak Sumardji terus menganggap saya rasis. Ini pembunuhan karakter. Saya sudah lama di Indonesia, saya cinta negara ini, dan saya sangat menghormati keberagaman di sini," tambah Klok.
Pelatih Persib Bandung, Bojan Hodak, tidak tinggal diam melihat pemain kuncinya dipojokkan. Pelatih asal Kroasia itu memberikan pembelaan keras dan menyerang balik pihak Bhayangkara FC. Menurut Hodak, melemparkan tuduhan rasisme tanpa bukti yang kuat adalah tindakan yang tidak profesional dan justru mempermalukan klub itu sendiri.
"Tuduhan ini sangat memalukan. Mereka mencoba mengalihkan perhatian dari hasil pertandingan dengan isu sensitif. Marc adalah pemain profesional, saya tahu apa yang dia katakan," tegas Hodak dalam konferensi persnya.
Bojan Hodak secara terbuka menuntut pihak Bhayangkara FC untuk segera mencabut pernyataan mereka dan menyampaikan permohonan maaf secara resmi kepada Marc Klok. Menurutnya, fitnah semacam ini bisa merusak mental pemain dan harmoni liga.
Insiden ini menjadi pengingat keras tentang betapa berbahayanya provokasi di lapangan hijau. Rasisme adalah isu global yang sangat sensitif, namun menjadikannya sebagai "senjata" untuk menjatuhkan lawan tanpa bukti autentik adalah bentuk provokasi yang justru mencederai nilai fair play.