Visum Dosen Erni Yuniati: Lebam dan Cairan Sperma Kuatkan Dugaan Pembunuhan Berlapis oleh Oknum Polisi

Erni Yuniarti
Sumber :
  • FB Erni Yuniarti

Padang – Kasus kematian tragis yang menimpa Erni Yuniati, dosen sekaligus Kepala Program Studi Keperawatan Institut Administrasi dan Kesehatan Setih Setio (IAKSS) Muara Bungo, mulai terkuak.

img_title LBH Padang Kecam Penghentian Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Polwan oleh Perwira Polda Sumbar

Melalui hasil pemeriksaan medis. Korban ditemukan tewas di kediamannya di kompleks Perumahan Al Kausar, pada Sabtu 1 November 2025 pukul 13.00 WIB.

Dosen cantik itu, ditemukan terbaring di atas tempat tidur hanya mengenakan pakaian dalam, dengan bagian kepala tertutup bantal dan kaki tertutup sarung. 

img_title Kampus di Persimpangan Jalan: Menilik Realita Ruang Aman yang Kian Semu

Dugaan sementara, dosen yang tewas di tangan mantan pacarnya itu, oknum anggota polisi bernama Bripda Waldi, menjadi korban pembunuhan disertai kekerasan seksual.

Dokter Sepriadi dari RSUD H. Hanafie Muara Bungo mengungkap hasil visum awal terhadap jasad dosen muda tersebut.

img_title Warganet Desak UI Drop Out 16 Mahasiswa FH Pelaku Pelecehan

Sepriadi mengatakan, pemeriksaan menunjukkan adanya dugaan tanda-tanda kekerasan yang serius pada tubuh korban.

Sepriadi merinci temuan fisik yang menguatkan dugaan penganiayaan berat. "Kami menemukan adanya tanda kekerasan seperti benjolan di kepala, lebam di bagian wajah, serta lebam di bagian bahu dan leher," ujarnya dikutip dari laman tvonenews, Selasa 4 November 2025.

Lebih lanjut, hasil pemeriksaan medis juga mengarah pada dugaan kekerasan seksual. "Dari hasil pemeriksaan juga ditemukan cairan diduga sperma pada celana dalam dan juga kemaluan korban," tambah Sepriadi. 

Ia menegaskan, untuk memastikan secara definitif bahwa cairan tersebut adalah sperma, diperlukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.

Sepriadi juga memperkirakan waktu kematian korban. Menurutnya, korban diduga meninggal dunia sekitar 12 jam sebelum jasadnya ditemukan, ditandai dengan masih mengalirnya darah hitam dari hidung korban saat pemeriksaan dilakukan.

Meskipun temuan mengarah kuat, Sepriadi memberikan klarifikasi terkait terminologi yang digunakan. "Saya tidak pernah memberikan pernyataan korban mengalami kekerasan seksual sebelum dibunuh. 

Jadi saya meminta kawan-kawan untuk menulis sesuai apa yang saya sampaikan," pungkasnya, menekankan agar media merujuk pada temuan medis yang faktual.

Secara terpisah, Kapolres Bungo, AKBP Natalena Eko Cahyono, membenarkan soal dugaan temuan cairan sperma di tubuh korban.

"Diduga iya (korban pemerkosaan), karena keterangan visum menyebutkan adanya sperma di celana korban," kata Kapolres Bungo. 

Halaman Selanjutnya
img_title