Kasus Dosen Cantik Untag Meninggal Tanpa Busana Picu Mahasiswa Tuntut Transparansi Polda Jateng
- Istimewa
Padang – Kematian seorang dosen cantik Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Semarang bernama Dwinanda Linchia Levi (35) di sebuah kamar kos eksklusif di Jalan Telagabodas, Gajah Mungkur, Kota Semarang, pada Senin pagi kemarin, memicu reaksi keras dari kalangan mahasiswa.
Puluhan mahasiswa Untag mendatangi Markas Polda Jawa Tengah (Polda Jateng) pada Rabu (19/11/2025) siang, menuntut pengungkapan tuntas atas kasus yang mereka nilai penuh kejanggalan.
Korban, yang dikenal sebagai dosen muda, ditemukan meninggal sekitar pukul 05.30 WIB dalam keadaan tanpa busana. Kejanggalan ini semakin diperkuat dengan dugaan kuat keterlibatan oknum kepolisian.
Mahasiswa mempertanyakan sejumlah kejanggalan utama yang terjadi di lokasi kejadian diantaranya, mengapa seorang Perwira Menengah Polri berinisial AKBP B (56) berada di lokasi saat korban meninggal, padahal ia bukanlah suami korban?
Mengapa korban ditemukan meninggal dalam kondisi tanpa busana?, Apa sebenarnya hubungan antara korban D dengan oknum polisi AKBP B?
"Kejanggalan-kejanggalan yang terjadi pada kasus ini harus diungkap tuntas. Kami meminta agar pihak kepolisian bisa menanganinya dengan serius dan transparan," tegas Frans, salah satu perwakilan mahasiswa Untag Semarang.
Merespons kedatangan mahasiswa, perwakilan Polda Jateng yang terdiri dari Kabid Humas, Dirreskrimum, dan Kabidpropam menemui dan beraudiensi di ruang Borobudur.
Kabidpropam Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Syaiful Anwar, menegaskan bahwa pihaknya telah memulai pemeriksaan terhadap anggotanya, AKBP B.
"Kami saat ini sudah melakukan pemeriksaan terhadap anggota kami, yaitu AKBP B. Kami berjanji akan menangani kasus ini dengan transparan, apakah ada unsur pidana atau unsur etika profesi anggota kepolisian," kata Kombes Pol Syaiful Anwar.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto, meminta mahasiswa dan keluarga korban untuk bersabar menunggu proses pemeriksaan yang saat ini sedang berlangsung.
Berdasarkan informasi yang didapatkan, kejanggalan lain yang menjadi sorotan publik adalah fakta bahwa korban dan AKBP B ternyata memiliki alamat yang sama dan bahkan tercatat dalam satu Kartu Keluarga (KK). Padahal, korban dipastikan bukanlah istri sah dari perwira menengah tersebut.