Survei Terbaru 2026: Pekerja Gen Z Alami Tingkat Kebahagiaan Terendah
- Shutterstock
Padang – Fenomena ketidakpuasan kerja kini mencapai puncaknya pada kelompok Generasi Z. Berdasarkan laporan Workplace Happiness Index 2025-2026, Gen Z tercatat sebagai kelompok pekerja dengan tingkat kebahagiaan terendah dibandingkan generasi Milenial maupun Gen X.
Riset yang dilakukan di berbagai sektor industri menunjukkan bahwa hanya sekitar 21% pekerja muda yang merasa benar-benar "berkembang" (thriving) di lingkungan kantor saat ini. Selebihnya, mayoritas responden mengeluhkan tekanan mental dan ketidakcocokan budaya kerja sebagai hambatan utama.
Penyebab Utama Ketidakbahagiaan
Salah satu pemicu utama rendahnya indeks kebahagiaan ini adalah fenomena conscious unbossing. Banyak talenta muda kini mulai menolak promosi ke jenjang manajerial karena enggan memikul beban stres yang mereka lihat dialami oleh atasan mereka. Bagi Gen Z, naik jabatan tidak lagi dianggap sebagai prestasi jika harus mengorbankan kesehatan mental.
Selain itu, ketidakpastian finansial menjadi faktor yang sangat dominan. Meskipun mereka berada di usia produktif, lebih dari 50% Gen Z mengaku hidup dari "gaji ke gaji" (paycheck to paycheck). Inflasi global dan biaya hidup yang terus meroket membuat gaji yang mereka terima seolah hanya "numpang lewat", yang pada akhirnya memicu kecemasan jangka panjang.
Budaya Kerja vs Ekspektasi
Pakar perilaku organisasi, Wisnu Sudewo, menjelaskan bahwa Gen Z memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap transparansi dan makna dari pekerjaan mereka. "Mereka sering merasa tidak dianggap atau merasa pekerjaan mereka tidak memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ketika koneksi emosional dengan perusahaan ini putus, kebahagiaan mereka merosot tajam," ujarnya dalam paparan riset di Jakarta.
Faktor lain yang tidak kalah krusial adalah gaya komunikasi. Gen Z yang terbiasa dengan kecepatan digital merasa frustrasi dengan birokrasi kantor yang lamban dan kurangnya umpan balik (feedback) yang instan dari atasan.
Solusi bagi Perusahaan
Untuk mengatasi krisis kebahagiaan ini, para ahli menyarankan perusahaan untuk mulai memprioritaskan kesejahteraan mental sebagai metrik bisnis yang nyata, bukan sekadar fasilitas tambahan. Fleksibilitas waktu kerja dan dukungan terhadap pengembangan keterampilan baru berbasis AI menjadi dua hal yang paling diinginkan oleh generasi ini.
Tanpa adanya perubahan budaya kerja yang lebih empatik, risiko turnover karyawan di kalangan pekerja muda diprediksi akan terus meningkat sepanjang tahun 2026.