Nostalgia "Buku Saku" Legendaris: Mengenang Fenomena Enny Arrow di Jagat Sastra Dewasa Era 80-an
- mangkardi.wordpress.com
Padang – Bicara soal budaya populer Indonesia di era 1980-an tidak akan lengkap tanpa menyinggung satu nama yang fenomenal sekaligus kontroversial, Enny Arrow.
Bagi generasi yang tumbuh di dekade tersebut, nama ini bukan sekadar penulis, melainkan sebuah ikon bawah tanah yang karyanya tersebar dari lapak koran terminal hingga ke laci meja belajar remaja.
Buku-bukunya yang berukuran saku menjadi saksi bisu era di mana akses terhadap konten dewasa masih sangat terbatas dan tersembunyi.
Nama Enny Arrow sendiri sebenarnya adalah nama pena dari Enny Sukaesih Probowidjojo. Ia dikenal sebagai "ratu" novel stensilan yang produktif, dengan ratusan judul yang memiliki pola cerita serupa namun tetap diburu pembaca.
Di zamannya, buku-buku ini dianggap sebagai pelarian imajinatif yang mengisi kekosongan literatur hiburan dewasa, meskipun keberadaannya selalu berada di bawah bayang-bayang razia dan sensor ketat pemerintah.
Ciri khas utama dari karya Enny Arrow adalah format fisiknya yang sangat sederhana. Biasanya dicetak dengan kertas buram (stensil), berukuran kecil sehingga mudah diselipkan di saku celana atau di dalam buku pelajaran.
Kesederhanaan fisik ini justru menjadi keunggulan, karena sifatnya yang portable dan "aman" dari penglihatan orang tua atau guru, menjadikannya komoditas yang berpindah tangan secara rahasia di antara teman sebaya.
Secara narasi, Enny Arrow memiliki gaya bahasa yang sangat lugas dan deskriptif. Ia tidak banyak menggunakan metafora yang rumit seperti sastra kelas atas sebaliknya, ia menggunakan kata-kata yang mudah dicerna oleh masyarakat umum.
Plot ceritanya sering kali berkisar pada kisah cinta perkotaan, perselingkuhan, atau petualangan asmara yang selalu berujung pada adegan-adegan dewasa yang sangat mendetail, yang pada masanya dianggap sangat berani.
Fenomena Enny Arrow juga mencerminkan kondisi sosiologis masyarakat urban era 80-an. Di tengah arus modernisasi yang mulai masuk ke kota-kota besar seperti Jakarta, muncul rasa penasaran yang besar terhadap seksualitas.
Karena pendidikan seks masih dianggap tabu di jalur formal, buku-buku stensilan ini secara tidak langsung menjadi saluran rasa ingin tahu tersebut, meskipun sering kali memberikan gambaran yang tidak realistis.