Dorong Ekonomi Kreatif Samosir, Pertamina Patra Niaga Perkuat Eksistensi Tenun Sakkamadeha
- Humas Pertamina Patra Niaga
Padang – Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut terus memperkuat komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Salah satu langkah nyatanya adalah melalui dukungan berkelanjutan bagi pelaku UMKM Sakkamadeha Gallery and Workshop yang berlokasi di Desa Lumban Suhi Suhi Toruan, Kabupaten Samosir.
Sakkamadeha, yang dalam bahasa Batak berarti “Pohon Kehidupan”, kini menjadi simbol kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat sekitar Danau Toba.
Galeri ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan yang mengubah warisan budaya kain ulos menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Sejak bergabung menjadi mitra binaan Pertamina pada tahun 2020, Sakkamadeha menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Saat ini, usaha tersebut telah berhasil memberdayakan sekitar 70 penenun lokal yang terdiri dari ibu rumah tangga hingga generasi muda, menciptakan lapangan kerja yang inklusif di daerah tersebut.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menegaskan bahwa dukungan ini merupakan bagian dari misi perusahaan untuk memajukan UMKM berbasis kearifan lokal agar mampu bersaing secara mandiri dan berkelanjutan.
“Sakkamadeha adalah contoh sukses bagaimana rumah produksi di Samosir mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi. Ini sejalan dengan komitmen Pertamina untuk terus mendampingi UMKM lokal agar tumbuh lebih besar,” ujar Fahrougi dalam keterangan resminya, Jumat 15 Mei 2026.
Inovasi menjadi kunci utama Sakkamadeha dalam menggaet pasar modern. Di tangan Stella Florensia Hutajulu dan timnya, kain ulos tidak lagi hanya dipandang sebagai perangkat upacara adat, melainkan ditransformasikan menjadi pakaian kasual, kemeja, hingga aksesori yang modis bagi anak muda.
Stella menjelaskan bahwa fleksibilitas produk menjadi strategi agar budaya lokal tetap relevan.
Dengan menghadirkan produk siap pakai, kain tenun kini lebih mudah diterima oleh generasi milenial dan Gen Z untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari tanpa menghilangkan esensi budayanya.
Untuk operasionalnya, Sakkamadeha mengelola tiga unit usaha utama: sentra produksi tenun, galeri penjualan, dan rumah jahit.
Harga yang ditawarkan pun kompetitif, mulai dari Rp50 ribu untuk kaos hingga Rp2 jutaan untuk kain tenun eksklusif, menjangkau berbagai lapisan konsumen.