Walhi Sumbar Rilis Citra Satelit Kerusakan Tambang Ilegal Sijunjung 6,58 Hektare Lahan yang Rusak

Citra satelit memperlihatkan kerusakan lingkungan diduga akibat aktifitas tambang ilegal di Sijunjung
Sumber :
  • Walhi Sumbar

Padang – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Barat merilis analisis citra satelit resolusi tinggi yang menunjukkan kerusakan bentang alam secara masif di lokasi tambang emas ilegal wilayah Guguak, Kabupaten Sijunjung, pada Rabu (20/5). Langkah ini menyusul peristiwa longsor maut yang terjadi beberapa waktu lalu dan menewaskan sedikitnya sembilan pekerja tambang di kawasan tersebut.

img_title Sestama BNPB dan Wali Kota Pariaman Serahkan Huntap Mandiri Sepablock untuk Korban Bencana

Analisis yang dilansir dari Media Indonesia itu memaparkan adanya perubahan drastis pada lanskap kawasan sejak periode 2021 hingga 2024. Area yang semula merupakan vegetasi alami kini telah berubah total menjadi kawasan tambang terbuka. Akibat pengerukan yang ugal-ugalan, kondisi tanah di area tersebut dilaporkan sangat rentan longsor karena struktur lereng yang rusak parah serta aliran sungai yang tercemar oleh sedimen berat.

Direktur Executif Walhi Sumatra Barat, Tommy Adam, membeberkan dinamika kerusakan ini secara detail melalui data spasial. "Analisis time series citra satelit menunjukkan, pada 2021 kawasan tersebut masih didominasi tutupan vegetasi alami di sepanjang bantaran sungai, berupa hutan, kebun, dan sawah. Badan sungai terlihat relatif normal dengan air yang masih cukup jernih serta sedimentasi yang minim. Aktivitas pertambangan belum tampak signifikan dan kawasan sempadan sungai masih berfungsi sebagai penyangga ekologis," terangnya pada Rabu (20/5).

img_title Resmi Terdaftar di Kementerian Hukum, Batik Sampan Pariaman Kini Dilindungi Hak Merek

Namun, penurunan kualitas lingkungan mulai terlihat jelas saat memasuki tahun 2022. Menurut Tommy, pada fase ini mulai muncul bukaan lahan di sisi kiri sungai yang diduga kuat menjadi akses awal aktivitas tambang emas ilegal. Walhi menilai perubahan tersebut menjadi tanda awal terganggunya stabilitas Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuantan akibat pengerukan tanah secara masif di wilayah hulu dan sempadan sungai.

Kerusakan lingkungan tersebut kemudian dilaporkan meningkat tajam pada tahun 2023. Pola pengerukan terbuka (open-pit) secara masif mulai menghilangkan vegetasi dalam skala besar. Puncaknya, hingga tahun 2024, estimasi total bukaan lahan di titik lokasi kejadian telah mencapai sekitar 6,58 hektare. Bukaan lahan sebesar ini memicu tingkat ketidakstabilan tanah yang sangat tinggi dan berbahaya.

img_title SLB, SMA, dan SMK di Kota Padang Hadirkan Layanan SPMB 2026 yang Akuntabel, Transparan, dan Inklusif

“Kondisi bentang alam di lokasi ini sudah rusak sangat parah dan dapat terlihat jelas melalui citra satelit. Korban jiwa terus berjatuhan, sementara negara seolah hanya datang menghitung mayat tanpa serius menghentikan sumber bencananya,” kritik tajam Tommy Adam.

Halaman Selanjutnya
img_title