Tambang Ilegal Jadi Pemicu Utama Kelangkaan Solar Subsidi di Sumbar
- IST
Padang – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mengindikasikan kuat bahwa maraknya kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) disebabkan oleh penyalahgunaan untuk aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) atau tambang ilegal.
Kepala Dinas ESDM Sumbar, Helmi Heriyanto, mengungkapkan bahwa temuan di lapangan menunjukkan angka konsumsi solar subsidi untuk operasional tambang ilegal sangat fantastis. Di satu titik wilayah pertambangan emas liar saja, mesin-mesin pengeruk dapat menghabiskan hingga ribuan liter solar per harinya.
"Solar subsidi itu indikasi kuat disalahgunakan untuk aktivitas PETI. Temuan kita di Kabupaten Sijunjung, satu titik PETI saja per harinya menghabiskan sekitar seribu liter atau satu ton solar subsidi," kata Helmi di Padang.
Helmi menambahkan, jika diakumulasikan secara keseluruhan di satu kabupaten seperti Sijunjung, volume solar subsidi yang tersedot ke aktivitas ilegal diperkirakan mencapai 5 hingga 7 kiloliter (KL) per hari. Dinas ESDM memprediksi bahwa setidaknya 80 persen dari total solar subsidi yang diselewengkan melalui modus pelangsiran dan penimbunan di Sumbar, bermuara ke kawasan tambang emas ilegal untuk menyokong alat-alat berat.
Dugaan tersebut diperkuat oleh fakta di lapangan. Beberapa hari setelah tim gabungan melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan penindakan langsung ke sejumlah lokasi tambang liar, antrean kendaraan yang biasanya mengular panjang di SPBU-SPBU terdekat langsung berangsur normal.
"Setelah kita melakukan penindakan ke lapangan, bisa kita lihat dalam beberapa hari tidak ada antrean lagi di SPBU. Secara tidak langsung, ini membuktikan bahwa hilangnya solar dari pasaran memang karena disalahgunakan untuk aktivitas PETI," tegas Helmi.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, saat memantau penyaluran BBM bersama Pertamina Patra Niaga di Padang menegaskan bahwa krisis solar ini bukan disebabkan oleh kurangnya kuota yang diberikan pemerintah. Fenomena ini murni akibat adanya kebocoran distribusi ke sektor industri ilegal.
"Ini bukan dugaan lagi, tapi fakta yang berulang. Setiap PETI marak, solar langsung langka. Begitu ada operasi dan penindakan tegas terhadap PETI, solar kembali gampang didapat masyarakat. Polanya selalu begitu," ujar Andre. Ia mendukung penuh langkah tegas aparat penegak hukum dan Pertamina yang telah memblokir ribuan nomor polisi kendaraan pelangsir demi melindungi hak masyarakat miskin.