Harga Oli dan Suku Cadang Meroket, Omzet Bengkel Motor di Padang Anjlok 50 Persen
- IST
Padang – Sektor usaha perawatan kendaraan bermotor di Kota Padang, Sumatera Barat, tengah menghadapi tantangan berat. Sejak memasuki bulan Mei 2026, kenaikan harga oli dan suku cadang (sparepart) sepeda motor yang signifikan memicu penurunan omzet pendapatan bengkel lokal hingga mencapai sekitar 50 persen. Kondisi ini diperparah oleh perubahan perilaku konsumen yang mulai membatasi pengeluaran untuk perawatan kendaraan mereka.
Berdasarkan pantauan di sejumlah bengkel kawasan jalan utama Kota Padang, aktivitas servis terlihat jauh lebih lengang dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Para pemilik bengkel mengaku terpukul dengan lonjakan modal belanja komponen yang terpaksa dibebankan pada harga jual ke konsumen.
Salah seorang pemilik bengkel di kawasan Nanggalo, Padang, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi hampir merata pada semua merek oli, baik untuk motor matik maupun manual. Begitu pula dengan komponen fast-moving seperti kampas rem, busi, dan rantai roda.
"Kenaikan harga dari distributor sudah terasa sejak awal Mei kemarin. Karena modal naik, kami terpaksa menyesuaikan harga jual. Dampaknya langsung terasa, sehari-hari bengkel jadi sepi," ujarnya saat ditemui, Jumat (12/6/2026).
Penurunan omzet hingga separo ini terjadi karena para pelanggan kini menjadi sangat selektif. Banyak pengendara sepeda motor yang langsung mengurungkan niat untuk melakukan perawatan rutin begitu mengetahui adanya selisih harga baru yang lebih mahal.
Fenomena yang paling sering dijumpai saat ini adalah tren menunda penggantian oli mesin. Padahal, oli merupakan komponen vital yang harus diganti secara berkala demi menjaga performa dan keawetan mesin motor.
"Pelanggan sekarang kalau datang biasanya tanya harga dulu. Begitu tahu harga oli naik, mereka kebanyakan mengurungkan niat dan bilang 'besok saja' atau 'tunggu gajian dulu'. Penggantian oli yang biasanya rutin sebulan sekali, sekarang bisa ditunda sampai dua atau tiga bulan oleh konsumen," tambah pemilik bengkel tersebut.
Bagi para pengguna sepeda motor, langkah menunda servis ini menjadi pilihan rasional demi menyiasati pengeluaran bulanan yang kian membengkak. Namun, di sisi lain, bagi para pelaku usaha bengkel mandiri, situasi ini menjadi ancaman serius bagi kelangsungan bisnis mereka. Pendapatan harian yang merosot tajam membuat mereka kesulitan menutupi biaya operasional, seperti sewa tempat dan gaji mekanik.