Ukir Prestasi di Uzbekistan, Tim Olimpiade Kimia Indonesia Bawa Pulang Empat Medali IChO 2026
- Kemendikdasmen
Padang – Pembinaan talenta muda di bidang sains kembali membuahkan hasil manis di panggung dunia.
Empat siswa terbaik bangsa binaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) berhasil menyabet tiga medali perak dan satu medali perunggu pada ajang bergengsi The 58th International Chemistry Olympiad (IChO) 2026 di Tashkent, Uzbekistan.
Capaian internasional ini menegaskan pentingnya konsistensi dalam penyaringan dan pembentukan talenta muda sains secara berkelanjutan.
Keberhasilan di tingkat global menjadi bukti bahwa potensi pelajar Indonesia mampu bersaing dengan puluhan negara maju jika ditopang oleh sistem pembinaan yang terstruktur dan adaptif.
Tiga medali perak sukses dipersembahkan oleh Renault Tjandera asal SMAS Santa Laurensia (Banten), Muhammad Arya Razan dari MAN Insan Cendekia Serpong (Banten), dan Aloysius Gonzaga Duta Setyawan dari SMA Kesatuan Bangsa (D.I. Yogyakarta).
Sementara itu, medali perunggu berhasil diraih oleh Ahmad Kautsar Al Ramadhani dari MAN 2 Kota Malang (Jawa Timur).
Kepala Puspresnas Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono, memberikan apresiasi tinggi atas perjuangan para delegasi muda tersebut.
Menurutnya, raihan medali ini merupakan buah manis dari komitmen pembinaan jangka panjang yang digulirkan pemerintah untuk menjaring bibit unggul sejak dari daerah.
Peningkatan performa tim Indonesia di ajang IChO 2026 menjadi persoalan substansial yang patut dicermati.
Head Mentor Tim IChO Indonesia 2026, Deana Wahyuningrum, mengungkapkan bahwa Indonesia berhasil menduduki peringkat ke-28 dunia dari sekitar 95 negara peserta, membaik dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang mengemas dua perak dan dua perunggu.
Tren positif peningkatan peringkat dunia ini menjadi modal berharga bagi tim Indonesia untuk mempersiapkan strategi pemusatan latihan yang lebih matang menjelang gelaran IChO mendatang di Taiwan.
Evaluasi atas capaian teori dan praktikum selama di Uzbekistan akan menjadi dasar penyempurnaan kurikulum pelatihan nasional ke depan.
Setibanya di Tanah Air melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Senin (20/7/2026), salah satu peraih medali perak, Muhammad Arya Razan, menceritakan panjangnya proses seleksi yang harus dilalui.
Dimulai dari jenjang Olimpiade Sains Nasional (OSN), peserta harus melewati karantina ketat yang menguji ketahanan mental serta penguasaan materi kimia tingkat lanjut.