Sisi Gelap Penyalahgunaan Kacamata Pintar di Ruang Publik

Kacamata pintar (smart glasses) yang dilengkapi kamera bawaan dan kecerdasan buatan (AI)
Sumber :
  • istockphoto

Padang – Kehadiran kacamata pintar (smart glasses) yang dilengkapi kamera bawaan dan kecerdasan buatan (AI) sejatinya dirancang untuk memudahkan aktivitas harian. Perangkat inovatif ini memungkinkan penggunanya memotret, merekam video, hingga mengakses petunjuk navigasi tanpa harus memegang ponsel. Namun, di balik kecanggihan tersebut, teknologi ini menyembunyikan sisi gelap yang kian meresahkan masyarakat.

img_title Solusi Sampah Modern, KEITI Jembatani Teknologi Korea Selatan untuk Dorong Padang Jadi Kota Bersih Dunia

Belakangan ini, kacamata pintar marak disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab—mulai dari pemburu konten, penguntit, hingga pria hidung belang. Mereka memanfaatkan perangkat ramping ini untuk mengambil foto dan video wanita secara tersembunyi tanpa persetujuan (non-consensual). Bentuknya yang sekilas tidak berbeda dari kacamata biasa membuat korban hampir mustahil menyadari bahwa gerak-gerik mereka sedang direkam.

Kasus penyalahgunaan ini kian menyita perhatian publik setelah insiden terbaru dalam ajang pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026. Seorang kreator konten Indonesia tertangkap kamera menggunakan kacamata pintar untuk merekam seorang usher atau pramuniaga pameran secara diam-diam. Video rekaman tanpa izin tersebut kemudian diunggah ke media sosial sebagai materi konten dengan narasi "cara mendekati wanita".

img_title Bakti Kemerdekaan, Angkatan 45 Bagikan 150 Kacamata Gratis di Padang

Aksi tersebut menuai gelombang kritik keras dari warganet. Banyak pihak menilai perbuatan merekam secara tersembunyi demi popularitas digital sebagai bentuk pelanggaran privasi serius dan pelecehan berbasis siber. Penggunaan narasi yang merendahkan korban dalam konten tersebut semakin mempertegas minimnya etika dan kesadaran hukum sebagian pengguna teknologi modern.

Para ahli privasi digital menilai kacamata pintar memiliki potensi risiko keamanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kamera ponsel pintar. Pada ponsel, tindakan mengambil gambar biasanya terlihat jelas dari posisi tangan dan arah lensa. Sebaliknya, kacamata pintar memungkinkan perekaman secara natural hanya dengan mengarahkan pandangan mata, sehingga memangkas kewaspadaan orang-orang di sekitar.

img_title Belajar di Luar Kelas, Siswa Padang Intip Canggihnya KRI Teluk Kendari di Pelabuhan Teluk Bayur

Meskipun produsen teknologi umumnya telah membekali kacamata pintar dengan lampu indikator LED yang menyala saat perekaman berlangsung, fitur keselamatan ini kerap dinilai kurang efektif. Ukuran lampu yang sangat kecil acap kali diabaikan di area publik yang ramai atau terang, bahkan beberapa oknum sengaja menutup lampu indikator tersebut menggunakan stiker atau cat agar tidak terdeteksi.

Halaman Selanjutnya
img_title