Monumen Pasar Banda Buek,saksi bisu Penyerangan Belanda di Lubuk Kilangan
- wikipedia
Padang –monumen pasar Banda Buek di Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, menjadi salah satu penanda sejarah penting perjuangan kemerdekaan di Sumatera Barat.
Monumen yang juga dikenal sebagai Tugu Pasa Banda Buek itu dibangun untuk mengenang tragedi berdarah serangan udara tentara Belanda yang terjadi pada 18 Januari 1947, sebuah peristiwa yang menewaskan puluhan warga sipil.
Keberadaan tugu tersebut mengingatkan masyarakat bahwa kawasan Banda Buek pernah menjadi lokasi serangan yang menghancurkan.
Di tengah situasi perang mempertahankan kemerdekaan, warga Lubuk Kilangan menjadi korban dalam aksi militer Belanda yang menyasar daerah permukiman dan pusat aktivitas masyarakat.
Latar belakang tragedi itu bermula dari berkibarnya Bendera Merah Putih di Kantor Camat Lubuk Kilangan.
Pengibaran bendera menjadi simbol semangat kemerdekaan dan penegasan bahwa masyarakat setempat mendukung Republik Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya.
Tindakan tersebut memicu kemarahan pasukan kolonial Belanda yang saat itu berupaya kembali menguasai wilayah sekitar Padang.
Bagi Belanda, pengibaran Merah Putih dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap kekuasaan kolonial yang ingin dipulihkan.
Pada 18 Januari 1947, pesawat tempur Belanda melakukan serangan udara ke kawasan Pasar Banda Buek.
Serangan dilakukan ketika kawasan itu sedang dipenuhi aktivitas warga, sehingga dampaknya sangat besar dan menimbulkan banyak korban jiwa dari kalangan masyarakat sipil.
Puluhan warga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Selain korban meninggal, banyak rumah dan bangunan di sekitar pasar mengalami kerusakan, sementara keluarga-keluarga yang selamat harus menghadapi trauma dan kehilangan yang mendalam.
Dalam situasi yang penuh ancaman, tokoh masyarakat setempat Abdoel Manaf bersama warga berinisiatif melakukan evakuasi terhadap para korban.
Upaya penyelamatan dilakukan dengan penuh kehati-hatian karena patroli tentara Belanda masih berlangsung di sekitar wilayah tersebut.
Penguburan jenazah dilakukan secara diam-diam pada malam hari. Langkah itu diambil untuk menghindari pengawasan dan tindakan represif dari pihak Belanda, sekaligus memastikan para korban mendapatkan penghormatan terakhir secara layak.
Kini, Tugu Banda Buek berdiri sebagai pengingat atas pengorbanan warga Lubuk Kilangan dalam mempertahankan kemerdekaan.
Monumen tersebut bukan sekadar bangunan peringatan, tetapi juga simbol keberanian masyarakat yang tetap mempertahankan identitas dan semangat kebangsaan di tengah tekanan kolonial.
Bagi generasi muda, sejarah Tragedi Banda Buek menjadi pelajaran penting bahwa kemerdekaan Indonesia dibayar dengan pengorbanan besar.