BPBD Sumbar Tingkatkan Mitigasi Karhutla di Tengah Penurunan Kualitas Udara

Ilustrasi karhutla
Sumber :
  • IST

Padang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) meningkatkan langkah mitigasi secara intensif guna mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah rawan. Langkah antisipasi ini diambil menyusul menurunnya kualitas udara di Sumbar dari kategori baik menjadi sedang, yang diduga kuat dipengaruhi oleh kabut asap kiriman dari titik-titik api di provinsi tetangga.

img_title Hujan Deras Picu Longsor di Aceh Tengah: 1 Warga Meninggal, 13 Luka-luka, dan Ruas Jalan Tertutup

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sumbar, Era Sukma Munaf, mengungkapkan bahwa pemerintah bersama instansi terkait terus memperkuat kesiapsiagaan di lapangan. Pihaknya tidak hanya mengandalkan peran aparat, tetapi juga meminta masyarakat untuk turut berperan aktif dengan menghentikan kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar.

"Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan yang dapat menyebabkan kebakaran. BPBD Sumbar bersama pemerintah daerah juga telah melakukan berbagai persiapan dalam menghadapi potensi bencana karhutla," ujar Era Sukma Munaf, Kamis (13/8).

Berdasarkan catatan BPBD, titik api di wilayah Sumbar saat ini terpantau berada di dua lokasi utama, yakni Kecamatan Silaut di Kabupaten Pesisir Selatan serta Kabupaten Pasaman Barat yang memiliki topografi kawasan gambut. Kedua wilayah tersebut kini menjadi fokus utama pemantauan karena memiliki tingkat kerawanan dan potensi kebakaran yang jauh lebih tinggi selama musim kemarau berlangsung.

Selain memperkuat pencegahan karhutla, BPBD Sumbar juga aktif memantau dinamika kualitas udara harian. Menurunnya kualitas udara dari kategori baik ke tingkat sedang dinilai berisiko bagi kesehatan masyarakat, sehingga warga diimbau untuk membatasi kegiatan di luar ruangan serta mengenakan masker pelindung.

"Kualitas udara Provinsi Sumbar menurun dari kategori baik menjadi sedang. Kami mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, dan apabila harus beraktivitas di luar agar menggunakan masker," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang, Sugeng Nugroho, menjelaskan bahwa penurunan kualitas udara ini terdeteksi berdasarkan prakiraan konsentrasi aerosol PM2,5 yang berada pada kisaran 16 hingga 55 nanometer. Kondisi udara berkabut yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumbar tersebut diduga kuat merupakan dampak dari sebaran asap titik api di provinsi tetangga seperti Sumatera Selatan, serta kiriman asap dari Pulau Kalimantan yang terbawa angin hingga ke wilayah Pulau Sumatera.

“Kondisi udara berkabut yang terjadi di sejumlah wilayah Sumbar diduga dipengaruhi asap dari titik-titik api di provinsi tetangga, seperti Sumatera Selatan. Selain itu, asap dari titik api yang terpantau di Pulau Kalimantan juga berpotensi terbawa hingga wilayah Sumatera,” jelas Sugeng.

Melalui peningkatan mitigasi yang terpadu dan kesiapsiagaan dini, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berharap ancaman karhutla dapat ditekan semaksimal mungkin. Koordinasi lintas sektoral serta partisipasi aktif masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah perluasan kebakaran hutan dan lahan yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan publik secara luas.