Gasiang Tangkurak, Ilmu Hitam Produk Tua Budaya Minangkabau

Padang – Jiko nyo lalok tolong jagokan, Jiko nyo tagak suruah bajalan, Di siko kini denai nantikan. Tolonglah japuik, japuik tabaok, Suruah nyo sujuik di kaki denai, Jiko tak namuah tanggang matonyo Tanggang salero bia nyo rasai, Datang si Mambang bia nyo gilo, Siang jo malam, nyo cari denai baru nyo sanang dek kiro-kiro.
Bernada Pentatonik, syair atau mantra diatas dilantunkan disela dengungan Gasiang Tangkurak, yang kerap diamainkan pada hari Kamis malam Jumat. Gasiang Tangkurak, merupakan wujud karya kebudayaan Minangkabau yang sarat dengan magis yang tumbuh dan berkembang ketika Minangkabau masih menganut sistem kepercayaan Animisme dan Dinamisme.
Ketika ajaran Islam masuk ke Minangkabau sekitar abad ke 6 masehi, Gasiang Tangkurak sempat pudar dikalangan masyarakat, tapi tidak hilang secara sepenuhnya. Gasiang Tangkurak tetap digunakan secara diam-diam oleh personal yang masih memilikinya.
Selain terkenal dengan keindahan panorama dan suguhan ribuan jenis kuliner, dan atraksi budaya menarik lainnya, Sumatera Barat atau juga lazim disebut dengan Minangkabau, juga dikenal memiliki berbagai kemampuan supranatural. Kemampuan supranatural tersebut dipergunakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang dihadapi.
Dari sekian banyak kemampuan supranatural atau ilmu kebatinan yang ada di Minangkabau, ada salah satu jenis yang sampai saat ini masih dianggap paling ampuh, bahkan juga ganas. Yakni, Gasiang Tangkurak. Gasiang Tangkurak dikalangan praktisi supranatural, dikenal sebagai salah satu ilmu hitam yang paling ampuh peninggalan budaya dari nenek moyang pada zaman dahulu.
Budayawan sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Daerah Minangkabau, Khanizar Chan menyebutkan, Gasiang Tangkurak sendiri diketahui terbuat dari bagian Dahi tengkorak mayat orang yang memiliki kepandaian ilmu kebatinan, atau mayat yang mati dalam kondisi tak wajar yang sudah dikuburkan selama 3 atau 6 bulan. Biasanya, bagi siapa saja yang ingin memiliki Gasiang Tangkurak ini, akan melakukan ritual di kuburan sang mayat selama beberapa malam. Ritual itu disebut dengan istilah Batarak, atau dalam bahasa Indonesia Bersemedi.
Setelah ritual Batarak selesai, dan sudah mendapatkan petunjuk, maka orang tersebut akan melakukan penggalian kubur dan mengambil potongan Dahi tengkorak sang mayat. Potongan Dahi tengkorak tersebut kemudian dibawa pulang untuk dibersihkan dan selanjutnya dilakukan ritual khusus lainnya hingga, Gasing Tangkurak bisa dimainkan dan digunakan sesuai dengan kebutuhan peminta atau keinginan dari sang pemilik.
Tak mudah bagi orang yang ingin memiliki Gasiang Tangkurak ini, selain ritual yang cukup panjang dan sulit dia juga akan menemukan banyak rintangan, terutama pada saat melakukan ritual Batarak dan penggalian kubur. Dilihat dari prosesnya, tentu saja Gasiang Tangkurak ini jauh dari ajaran Agama Islam, dan bisa disebut bersekutu dengan makhluk halus. Dahi tengkorak mayat yang berhasil diambil dan dibawa pulang, dibersihkan dan kering, lalu diasapi dengan kemenyen dan dibacakan mantra tertentu, barulah setelah itu akan dibentuk bulat pipih dan dibuat dua buah lubang tepat ditengah dahi tengkorak itu.
Setelah itu, Gasiang Tangkurak lalu dipasangkan tali Tujuah Ragam (tujuh warna) atau menggunakan tali kain kafan. Dalam dunia ilmu Hitam di Minangkabau, Gasiang Tangkurak merupakan media yang dapat digunakan untuk menyakiti, memikat hati perempuan, memisahkan orang, memanggil orang dari jarak jauh bahkan bisa sampai membunuh secara magis, tergantung dari permintaaan siapa yang berkeinginan atau kehendak dari sang pemilik Gasiang Tangkurak itu sendiri.
Cara memainkan Gasiang Tangkurak pun berbeda dengan gasing pada umumnya. GasiangTangkurak dimainkan dengan cara ujung tali kain kafan atau benang tujuh rupa diikat pada jempol kaki, dan ujung tali satunya di sela jari tangan. Rata-rata pemilik atau tuan akan memainkan Gasiang Tangkurak pada tengah malam di tempat sepi, seperti dibawah pohon besar di hutan atau di sungai. Karena, ditempat ini, terutama sungai, diyakini banyak Mambang (makhluk halus) berkeliaran dan gampang disuruh-suruh.
Efek yang timbul dari Gasiang Tangkurak
Ilustrasi Tengkorak Manusia. Foto/Pixabay
- -