Pesona Kota Gastronomi: Kuliner Padang Tak Hanya Manjakan Lidah, Tapi Juga Dongkrak PAD Hingga Miliaran
- West Sumatra 360
Padang – Menginjak usia yang ke-3,5 abad, Kota Padang kian memantapkan posisinya bukan sekadar sebagai kota tua bersejarah, melainkan sebagai pusat gravitasi kuliner dunia.
Langkah besar diambil saat pemerintah setempat resmi mendeklarasikan diri sebagai "Kota Gastronomi" pada Agustus 2025 lalu, sebuah transformasi yang membawa angin segar bagi identitas kota.
Sejak deklarasi tersebut, kota yang memandang langsung ke cakrawala Samudera Hindia ini seolah tak pernah sepi.
Wisatawan dari berbagai penjuru berbondong-bondong datang, bukan hanya untuk menikmati senja di tepi pantai, tetapi demi satu tujuan utama merasakan ledakan rasa dari kuliner khas Minangkabau yang otentik di tempat asalnya.
Dampak dari "demam kuliner" ini ternyata sangat nyata bagi kantong daerah. Plt Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Padang, Fuji Astomi, mengungkapkan bahwa status baru sebagai Kota Gastronomi telah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang sangat efektif bagi Ibu Kota Sumatera Barat ini.
Fuji membeberkan angka yang cukup mencengangkan. Sektor Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) untuk makanan dan minuman mengalami kenaikan drastis. Tak tanggung-tanggung, realisasinya kini menyentuh angka lebih dari Rp5,6 miliar.
"Lonjakannya sangat terasa. Sejak kita fokus menggarap sektor gastronomi, pendapatan dari sektor makan dan minum ini melesat dari yang sebelumnya hanya berada di kisaran Rp4 miliar," jelas Fuji Astomi dikutip dari keterangan tertulis, Senin 6 April 2026.
Tren positif ini mulai terlihat tajam di penghujung tahun 2025 dan semakin memuncak saat momentum libur Lebaran beberapa waktu lalu.
Kepulangan para perantau yang rindu akan cita rasa masakan rumah seolah menjadi bahan bakar utama yang membuat restoran dan rumah makan di Padang "panen" besar-besaran.
Namun, bukan hanya urusan perut yang menyumbang pundi-pundi daerah. Sektor Jasa Perhotelan juga ikut kecipratan berkah kunjungan wisatawan ini dengan torehan pendapatan sebesar Rp3,4 miliar lebih.
Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan tidak hanya datang untuk makan lalu pergi, tetapi juga bermalam dan menikmati suasana kota.
Sektor pendukung lainnya pun tak mau kalah memberikan kontribusi. Dari sektor Jasa Parkir, daerah berhasil meraup pendapatan sebesar Rp129 juta lebih, sementara dari sektor Jasa Kesenian dan Hiburan tercatat menyumbang angka yang cukup manis, yakni sebesar Rp654 juta.