Filosofi Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina: Manifesto Universal Mengenai Pentingnya Literasi
- Pixabay
Padang – Ungkapan "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina" telah lama menjadi salah satu jargon motivasi pendidikan paling populer di dunia, khususnya di kalangan masyarakat Timur.
Meskipun kerap diperdebatkan status transmisinya dalam literatur, kalimat ini diakui secara luas memiliki bobot filosofis yang melampaui sekat zaman.
Dari perspektif historis dan geografis, penyebutan kata "Cina" pada abad ke-7 Masehi merupakan sebuah bentuk hiperbola untuk menggambarkan jarak terjauh yang bisa dibayangkan manusia.
Jazirah Arab dan Daratan Cina kala itu dipisahkan oleh gurun pasir ganas dan jalur sutra yang berbahaya, menegaskan pesan bahwa jarak tidak boleh menjadi penghalang bagi pencarian ilmu.
Lebih dalam lagi, pemilihan lokasi tersebut juga menyimpan makna sosiologis yang sangat menarik terkait inklusivitas pengetahuan.
Pada masa itu, Cina bukanlah pusat penyebaran agama samawi, melainkan episentrum peradaban dunia yang sangat maju dalam bidang sains praktis, tata negara, pengobatan herbal, hingga astronomi.
Melalui realitas tersebut, ungkapan ini seolah menegaskan bahwa ilmu yang wajib dicari oleh manusia tidak melulu terbatas pada aspek spiritual semata.
Umat manusia diperintahkan untuk memiliki pikiran terbuka guna mempelajari metodologi, teknologi, dan hikmah dari bangsa mana pun, bahkan yang memiliki latar belakang keyakinan berbeda.
Aspek psikologis juga melekat kuat pada jargon ini, di mana proses perjalanan berbulan-bulan menuju negeri seberang menuntut sebuah resiliensi yang tinggi.
Menuntut ilmu disimbolkan sebagai sebuah aktivitas yang membutuhkan mentalitas untuk berani keluar dari zona nyaman, mengorbankan waktu, biaya, serta tenaga demi sebuah kebenaran ilmiah.
Selain itu, jika ditinjau dari budaya literasi, Cina masa lalu merupakan pelopor utama dalam teknologi pembuatan kertas sebelum akhirnya diadopsi oleh dunia Islam dan Eropa.
Kertas merupakan elemen paling krusial dalam kodifikasi ilmu pengetahuan, sehingga pergi ke Cina juga bermakna mempelajari infrastruktur dokumentasi agar ilmu bisa diwariskan lintas generasi.
Bila ditarik ke dalam konteks modern, ungkapan visioner ini menemukan relevansi baru yang sangat mencengangkan.
Saat ini, negeri tirai bambu tersebut benar-benar telah menjelma menjadi raksasa global dalam inovasi kecerdasan buatan (AI), teknologi energi terbarukan, serta pusat manufaktur yang mendikte perekonomian dunia.