Mengenal Tradisi Tabuik Pariaman Yang Sudah Menjadi Ikon Budaya dan Penggerak Ekonomi Daerah
- Padang Viva
Padang – Tradisi Tabuik yang digelar setiap bulan Muharam di Kota Pariaman, Sumatera Barat, tidak lagi sekadar dipandang sebagai ritual mengenang gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali, dalam Perang Karbala.
Dalam perkembangannya selama lebih dari dua abad, Tabuik telah menjelma menjadi warisan budaya yang memadukan nilai sejarah, agama, seni, sosial, hingga menjadi salah satu daya tarik utama sektor pariwisata di Sumatera Barat.
Tradisi ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Berdasarkan kajian dalam Jurnal SOSMANIORA, Tabuik dibawa oleh masyarakat Cipei dari Bengkulu ke Pariaman setelah terjadinya Traktat London tahun 1824 antara Inggris dan Belanda.
Sejak saat itu, tradisi tersebut mengalami proses akulturasi dengan budaya Minangkabau hingga menjadi identitas budaya masyarakat Pariaman yang tetap lestari sampai sekarang.
Peneliti menjelaskan bahwa meskipun berakar dari peringatan wafatnya Husein bin Ali pada tanggal 10 Muharam, masyarakat Pariaman yang mayoritas bermazhab Syafi'i tidak memandang Tabuik sebagai bagian dari akidah keagamaan.
Tradisi tersebut lebih dipahami sebagai warisan budaya Islam yang mengandung nilai sejarah, penghormatan terhadap perjuangan, serta media mempererat solidaritas masyarakat.
Dalam perkembangannya, makna Tabuik mengalami transformasi yang cukup signifikan. Pada masa awal pelaksanaannya, ritual ini memiliki nuansa sakral yang kuat.
Bahkan sebagian masyarakat pernah meyakini bahwa beberapa bagian Tabuik memiliki kekuatan membawa keberkahan atau menyembuhkan penyakit.
Namun seiring perubahan zaman, nilai ritual tersebut bergeser menjadi perayaan budaya yang lebih terbuka dan inklusif, sekaligus menjadi agenda wisata tahunan Pemerintah Kota Pariaman.
Perubahan tersebut tidak terjadi tanpa dinamika. Sejarah mencatat, pada masa kolonial Belanda, pelaksanaan Tabuik sempat dimanfaatkan sebagai alat politik dengan memicu perselisihan antarkelompok.
Setelah Indonesia merdeka, tradisi ini bahkan sempat terhenti pada periode 1969 hingga awal 1980-an akibat konflik sosial yang terjadi dalam pelaksanaannya.
Baru kemudian Pemerintah Kota Pariaman bersama tokoh masyarakat menghidupkan kembali tradisi tersebut dengan pendekatan yang lebih tertata dan berorientasi pada pelestarian budaya.
Secara budaya, Tabuik menyimpan rangkaian prosesi yang sarat simbol. Mulai dari maambiak tanah, manabang batang pisang, maatam, maarak jari-jari, maarak sorban, tabuik naiak pangkek, hingga puncaknya hoyak tabuik dan pembuangan Tabuik ke laut.