Mengenal Tradisi Tabuik Pariaman Yang Sudah Menjadi Ikon Budaya dan Penggerak Ekonomi Daerah
- Padang Viva
Setiap tahapan merepresentasikan kisah Perang Karbala, kesedihan atas gugurnya Husein bin Ali, sekaligus menjadi ruang ekspresi seni melalui iringan gandang tasa, arak-arakan, serta karya seni rupa pada bangunan Tabuik.
Di sisi lain, para peneliti menilai bahwa kekuatan utama Tabuik justru terletak pada fungsi sosialnya.
Pelaksanaan tradisi ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari ninik mamak, tokoh adat, pemuda, seniman, hingga pemerintah daerah.
Seluruh proses persiapan dilakukan melalui musyawarah, pembagian tugas, dan kerja sama lintas kelompok, sehingga menjadikan Tabuik sebagai media memperkuat kohesi sosial masyarakat Pariaman.
Selain memperkuat identitas budaya, Tabuik juga memberikan dampak ekonomi yang nyata. Sejak ditetapkan sebagai agenda wisata tahunan Sumatera Barat pada dekade 1990-an, festival ini mampu menarik ratusan ribu pengunjung dari berbagai daerah bahkan mancanegara.
Kehadiran wisatawan mendorong pertumbuhan sektor ekonomi lokal, mulai dari perdagangan, kuliner, penginapan, hingga industri kreatif berupa miniatur Tabuik sebagai cendera mata khas Pariaman. Pemerintah juga memberikan pelatihan kepada masyarakat untuk meningkatkan kualitas produk kerajinan tersebut.
Meski demikian, kajian tersebut juga mengingatkan adanya tantangan dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai budaya dan kepentingan industri pariwisata.
Komodifikasi budaya berpotensi menggeser makna filosofis Tabuik apabila lebih menonjolkan aspek hiburan dibandingkan nilai sejarah, religius, dan sosial yang menjadi fondasi tradisi tersebut.
Karena itu, pelibatan tokoh adat, akademisi, budayawan, dan masyarakat dinilai penting agar substansi budaya tetap terjaga di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan.
Berdasarkan hasil penelitian, keberlangsungan Tradisi Tabuik hingga kini menunjukkan bahwa masyarakat Pariaman berhasil mempertahankan salah satu warisan budaya Islam terpenting di Sumatera Barat.
Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol identitas daerah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah ritual historis mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Ke depan, pengelolaan yang menempatkan Tabuik sebagai warisan budaya sekaligus aset ekonomi kreatif diyakini akan memperkuat posisi Pariaman sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia.