Mitos Gasiang Tangkurak dalam Lirik Lagu Minang: Ketika Cinta Berujung Praktik Sijundai
- Istockphoto
Padang – Dalam khazanah musik pop Minang, lagu Gasiang Tangkurak menduduki posisi tersendiri sebagai salah satu karya paling ikonik sekaligus bernuansa mistis.
Ditulis oleh maestro pencipta lagu legendaris Sumatera Barat, Syahrul Tarun Yusuf (STF). Lagu ini merekam jejak budaya tutur dan kepercayaan mistis masyarakat Minangkabau di masa lampau.
Secara harfiah, gasiang tangkurak merujuk pada gasing yang terbuat dari potongan tengkorak manusia, biasanya bagian dahi orang yang meninggal tidak wajar.
Dalam tradisi lisan Minangkabau, alat ini dimanfaatkan sebagai media ilmu pelet atau pemikat jarak jauh berdaya magis tinggi untuk menundukkan hati seseorang wanita yang menolak cinta secara menyakitkan.
Lirik lagu dibuka dengan ungkapan keputusasaan yang mendalam,"Indak kayu, mak, janjang dikapiang / Asakan dapek urang den cinto" (Jika tak ada kayu, tangga pun dibelah / Asalkan mendapatkan orang yang dicintai).
Bait ini mengisyaratkan pengorbanan ekstrem dan nekad dari seseorang yang telah gelap mata demi mendapatkan paut hati pujaannya, tanpa peduli lagi batas norma dan hukum.
Ritual mistis dalam lagu ini digambarkan secara eksplisit pada bait berikutnya. Pemanggilan gasing berbahan kain kafan tersebut dilakukan pada waktu khusus, yakni "di patang Kamih malam Jumahaik" (Kamis sore menjelang malam Jumat).
Penggunaan asap kemenyan (asok kumayan) dan pemanggilan entitas gaib (jihin si rajo hawa) mempertegas atmosfer ritus ilmu hitam yang pekat dalam narasi lagu tersebut.
Maksud utama dari ritual ini disampaikan melalui bait pesan agar sang target tidak pernah merasa tenang, "Jikok nyo lalok tolong jagokan / Jikok nyo tagak suruah bajalan" (Jika dia tidur tolong bangunkan / Jika dia berdiri suruh dia berjalan).
Target dibuat terus membayangkan sosok si pengirim pelet tanpa henti, baik dalam keadaan sadar maupun terlelap.
Memasuki bagian reff, intensitas keputusasaan berubah menjadi pembalasan dendam yang psikotis.
Lirik "Suruah nyo sujuik di kaki denai" menggambarkan keinginan untuk melihat orang yang pernah menolaknya bertekuk lutut dan memohon ampun di hadapannya.
Dampak dari serangan magis ini ditutup dengan ancaman kondisi fisiologis dan mental yang mengerikan, "Tanggang matonyo, tanggang salero... datang sijundai bia nyo gilo" (Dibuat tidak bisa tidur, tidak bisa makan... datang sijundai biarlah dia gila).