Musim Anggau Sedang Berlangsung di Mentawai, Tradisi Muanggau Jadi Momen Berburu Kepiting Khas Tanah Sikerei
- indonesiana
Padang – Musim anggau sedang berlangsung di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Setiap tahun, musim berburu kepiting darat atau kepiting batu khas Mentawai ini umumnya berlangsung pada Juli hingga September.
Bagi masyarakat setempat, periode tersebut menjadi waktu yang dinantikan untuk mencari anggau di kawasan pesisir.
Anggau dikenal sebagai salah satu pangan lokal yang keberadaannya sangat berkaitan dengan kondisi alam.
Kepiting tersebut keluar dari tempat persembunyiannya menuju kawasan pesisir, terutama ketika air laut mengalami pasang.
Kemunculannya yang bersifat musiman membuat anggau tidak mudah ditemukan sepanjang tahun.
Saat musim anggau berlangsung, masyarakat Mentawai memanfaatkannya dengan melakukan tradisi muanggau.
Kegiatan ini merupakan aktivitas berburu anggau yang dilakukan di kawasan pesisir maupun daratan.
Masyarakat memanfaatkan pengetahuan lokal untuk menemukan kepiting yang sedang keluar dari tempat persembunyiannya.
Tradisi muanggau dapat dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kalangan usia.
Aktivitas berburu bukan hanya menjadi kesempatan untuk mendapatkan bahan pangan, tetapi juga menjadi momen kebersamaan.
Warga turun bersama-sama, menyusuri kawasan yang menjadi habitat anggau, kemudian membawa pulang hasil buruan untuk diolah.
Musim anggau yang berlangsung Juli hingga September tergolong singkat. Karena itu, masyarakat biasanya memanfaatkan periode tersebut dengan sebaik-baiknya.
Setelah musim berakhir, kemunculan anggau tidak lagi semudah saat periode musim berlangsung sehingga masyarakat harus menunggu hingga musim berikutnya.
Hasil buruan anggau kemudian dapat diolah menjadi berbagai hidangan khas Mentawai.
Salah satu cara pengolahannya adalah memasak kepiting dengan santan dan bumbu rempah.
Kuah santan yang gurih berpadu dengan cita rasa daging kepiting menghasilkan hidangan yang menjadi bagian dari kekayaan kuliner masyarakat setempat.
Salah satu kuliner yang dikenal adalah anggau siboik-boik.
Hidangan ini menggunakan anggau sebagai bahan utama yang dimasak bersama santan dan bumbu.
Pengolahan tersebut menghasilkan cita rasa gurih dan kaya rempah sekaligus memperlihatkan bagaimana masyarakat Mentawai memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitarnya.
Bagi masyarakat Mentawai, muanggau bukan hanya kegiatan mencari makanan.
Tradisi ini juga berkaitan dengan pengetahuan tentang alam yang diwariskan secara turun-temurun. Waktu kemunculan anggau, lokasi pencarian, serta cara mendapatkan dan mengolahnya menjadi bagian dari pengetahuan lokal yang terus dipraktikkan.
Keberadaan musim anggau sekaligus memperlihatkan eratnya hubungan masyarakat Mentawai dengan lingkungan alam.