Tasapo, Istilah dalam Kepercayaan Minangkabau tentang Sakit yang Dianggap Tersapa Makhluk Gaib

ilustrasi
Sumber :
  • ai

PadangTasapo merupakan istilah dalam bahasa Minangkabau yang secara harfiah dipahami sebagai kondisi seseorang yang dianggap tersapa atau mendapat teguran dari makhluk gaib.

img_title Tabia Minangkabau: Jejak Keindahan, Adat, dan Kehormatan

Istilah ini dikenal dalam kepercayaan masyarakat di sejumlah daerah Sumatera Barat dan biasanya dikaitkan dengan munculnya gangguan kesehatan setelah seseorang melewati atau berada di tempat yang dianggap angker.

Menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat, tasapo dapat terjadi ketika seseorang tanpa sengaja melewati tempat tertentu yang dipercaya memiliki penghuni gaib.

Tempat tersebut bisa berupa kawasan yang sepi, hutan, tepian sungai, kuburan atau lokasi lain yang dianggap memiliki suasana khusus.

img_title Sipak Rago, Permainan Tradisional Minangkabau yang Menyimpan Sejarah, Mitos, dan Kebersamaan

Karena itu, masyarakat biasanya mengingatkan agar seseorang menjaga sikap dan ucapan ketika berada di tempat-tempat tersebut.

Orang yang dipercaya mengalami tasapo disebut dapat menunjukkan sejumlah keluhan pada tubuh.

Gejala yang sering diceritakan antara lain badan terasa panas, demam, sakit kepala, pusing, berkeringat dan kondisi tubuh yang terasa tidak nyaman.

img_title Cara bikin Karupuak Leak, Kerupuk Bersiram Kuah yang Jadi Jajanan Legendaris Minang

Pada sebagian cerita masyarakat, telapak tangan dan kaki hingga ujung jari juga dapat terasa dingin meskipun tubuh mengalami panas.

Kemunculan keluhan tersebut biasanya menjadi dasar bagi keluarga untuk menduga seseorang mengalami tasapo.

Dugaan itu terutama muncul apabila kondisi badan berubah setelah seseorang mengunjungi atau melewati lokasi yang sebelumnya dianggap memiliki unsur gaib.

Pemahaman tersebut merupakan bagian dari sistem kepercayaan masyarakat dan tidak sama dengan diagnosis berdasarkan pemeriksaan kedokteran.

Untuk mengenali tasapo, masyarakat tertentu mengenal cara pemeriksaan menggunakan media sederhana. Salah satunya adalah kunyit.

Dalam praktik yang dicatat dalam penelitian mengenai pengobatan tasapo di Sumatera Barat, kunyit digunakan sebagai media yang kemudian diamati berdasarkan posisi jatuhnya setelah proses tertentu dilakukan oleh orang yang dianggap memiliki pengetahuan mengenai pengobatan tersebut.

Posisi kunyit yang jatuh, seperti telentang atau telungkup, dapat dimaknai sebagai tanda tertentu oleh pengobat.

Hasil pembacaan tersebut kemudian dipercaya dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi yang dialami seseorang.

Cara tersebut menunjukkan adanya sistem simbol yang digunakan masyarakat untuk memahami penyakit yang mereka yakini berkaitan dengan tasapo.

Selain kunyit, pinang juga disebut dalam sejumlah praktik pengobatan tasapo. Media tersebut digunakan dalam proses tertentu yang biasanya disertai doa atau mantra oleh orang yang memiliki pengetahuan mengenai pengobatan setempat.

Halaman Selanjutnya
img_title