Hangatnya Sekotang Saat Hujan, Menelusuri Sejarah Minuman yang Berakar dari Su Ko Thung

sekotang
Sumber :
  • gofood

PadangHujan turun, udara menjadi dingin, dan segelas atau semangkuk minuman hangat terasa semakin menggoda.

img_title Sipak Rago, Permainan Tradisional Minangkabau yang Menyimpan Sejarah, Mitos, dan Kebersamaan

Salah satu sajian yang cocok menemani suasana tersebut adalah sekotang atau sekoteng.

Kuah jahenya yang panas dengan rasa manis dan pedas menghadirkan sensasi hangat, membuat minuman tradisional ini tetap digemari hingga sekarang.

img_title Badia Batuang, Permainan Meriam Bambu yang Sarat Sejarah dan Tradisi Minangkabau


Sekotang yang dikenal di sejumlah daerah, termasuk dalam penyebutan masyarakat Minangkabau, memiliki kaitan dengan sekoteng yang populer di Indonesia.

Sekoteng sendiri dikenal sebagai minuman tradisional yang identik dengan Jawa Tengah.

img_title Film Laptop Si Unyil Sukses Jadi Pelopor Edukasi Populer Anak Indonesia

Dalam perkembangannya, minuman berbahan dasar jahe tersebut menyebar ke berbagai daerah dan mengalami penyesuaian nama, bahan, serta cara penyajian.

Menariknya, sejarah sekoteng tidak hanya berkaitan dengan tradisi kuliner Jawa.

Nama sekoteng dipercaya memiliki hubungan dengan istilah Hokkian su ko thung atau si guo tang, yang sering diterjemahkan sebagai sup empat buah.

Istilah tersebut merujuk pada sajian tradisional Tionghoa dengan sejumlah bahan kering yang kemudian mengalami perubahan ketika berkembang di Nusantara. 

Dalam versi yang berkembang di Indonesia, sekoteng tampil dengan karakter yang berbeda.

Kuahnya dibuat dari jahe dan rempah, kemudian dilengkapi berbagai isian seperti kacang tanah, kacang hijau, pacar cina, kolang-kaling, serta potongan roti tawar.

Perubahan tersebut memperlihatkan proses akulturasi antara tradisi kuliner Tionghoa dengan bahan-bahan yang dekat dengan masyarakat Nusantara.


Di tengah masyarakat Jawa juga berkembang penjelasan lain mengenai nama sekoteng. Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan istilah nyokot weteng, yang berarti menggigit perut.

Ungkapan tersebut menggambarkan sensasi jahe yang terasa pedas dan hangat ketika diminum.

Namun, penjelasan mengenai asal nama ini merupakan salah satu versi yang berkembang di masyarakat, sementara hubungan dengan su ko thung juga banyak disebut dalam sumber mengenai sejarah sekoteng. 

Perjalanan sekoteng kemudian menjadikannya salah satu contoh menarik akulturasi kuliner di Indonesia.

Nama dan resep yang mengalami perubahan menunjukkan bahwa makanan dan minuman dapat beradaptasi dengan lingkungan baru.

Dari tradisi Tionghoa, sekoteng berkembang menjadi minuman yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, sebelum dikenal pula di berbagai daerah lainnya. 

Cara penyajiannya pun memiliki ciri khas. Secara tradisional, sekoteng kerap dijual menggunakan gerobak keliling pada malam hari.

Halaman Selanjutnya
img_title