Serak Bareh Kuniang, Prosesi Menabur Beras Kuning Saat Mengantar Marapulai

bareh kuniang
Sumber :
  • insatgram

Padang – Serak bareh kuniang merupakan salah satu prosesi dalam rangkaian perkawinan adat Minangkabau. Prosesi ini ditandai dengan menaburkan beras yang telah dicampur kunyit ketika marapulai atau pengantin pria diantar menuju rumah anak daro, pengantin wanita.

Taburan beras kuning tersebut menjadi bagian dari penyambutan sekaligus ungkapan doa bagi pasangan yang akan memulai kehidupan berumah tangga.

Prosesi serak bareh kuniang umumnya dilakukan ketika rombongan marapulai tiba di rumah anak daro.

Sebelum pengantin pria menaiki rumah, beras kuning ditaburkan di sekitar area yang dilalui.

Momen tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik dalam rangkaian perkawinan Minangkabau karena mempertemukan unsur adat, keluarga dan kegembiraan dalam satu prosesi.

Beras menjadi bahan utama dalam prosesi ini karena memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Beras merupakan sumber pangan utama dan dalam konteks simbolik dapat dikaitkan dengan kecukupan serta kemakmuran.

Ketika dicampur kunyit hingga berwarna kuning, beras tersebut kemudian digunakan sebagai perlambang harapan baik untuk kehidupan pasangan pengantin.

Warna kuning pada beras juga memiliki makna simbolis.

Dalam pemaknaan masyarakat yang menjalankan prosesi ini, beras kuning dikaitkan dengan keselamatan, keberkahan, kemakmuran dan harapan agar kehidupan rumah tangga berjalan dengan baik.

Taburan tersebut menjadi bentuk doa yang disampaikan secara simbolis ketika marapulai memasuki lingkungan keluarga anak daro.

Serak bareh kuniang tidak hanya mengandalkan simbol berupa beras dan kunyit. Prosesi tersebut dapat disertai pantun, pasambahan dan ungkapan adat.

Tuturan yang disampaikan biasanya berisi nasihat serta doa bagi kedua mempelai agar mampu membangun rumah tangga dengan saling menghargai, menjaga hubungan keluarga dan menjalankan kehidupan dengan penuh tanggung jawab.

Penggunaan pantun dalam prosesi tersebut memperlihatkan kuatnya peran sastra lisan Minangkabau dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Pesan yang disampaikan melalui pantun tidak hanya terdengar indah, tetapi juga mengandung petuah kehidupan.

Bahasa yang penuh perumpamaan menjadi cara untuk menyampaikan nasihat kepada pengantin dan keluarga tanpa menghilangkan suasana khidmat dalam acara.

Kedatangan marapulai ke rumah anak daro sendiri merupakan momen penting dalam rangkaian perkawinan.