Upaya Selamatkan Rafflesia Terus Diperkuat Lewat Riset dan Kolaborasi Global
- Padang Viva
Padang – Keberhasilan menumbuhkan bunga Rafflesia di luar habitat hutan alaminya dinilai menjadi langkah penting dalam upaya mitigasi kepunahan tumbuhan langka tersebut.
Selain berfungsi sebagai sarana wisata edukasi, budidaya Rafflesia di luar habitat aslinya membuka peluang perluasan populasi dan regenerasi alami di wilayah-wilayah baru.
Upaya ini menjadi krusial di tengah menyusutnya kawasan hutan yang selama ini menjadi habitat utama Rafflesia.
Kebun Raya Bogor (KRB) menaruh harapan besar pada riset berkelanjutan untuk menjaga keberadaan tumbuhan parasit raksasa ini dari ancaman gangguan ekosistem yang semakin drastis.
Dengan dukungan penelitian mendalam, populasi Rafflesia hasil konservasi diharapkan mampu berkembang dan berbunga secara alami, sekaligus memperkuat strategi pelestarian jangka panjang.
Di tingkat nasional, penelitian Rafflesia telah melibatkan berbagai institusi riset dan perguruan tinggi terkemuka.
Sejumlah pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Pusat Penelitian Biologi LIPI yang kini berada di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Bengkulu, hingga Universitas Riau aktif mengkaji berbagai aspek, mulai dari ekologi, taksonomi, hingga anatomi Rafflesia.
Peneliti Kebun Raya Bogor seperti Sofi Mursidawati dan Irawati terus mengembangkan teknik konservasi ex-situ untuk mendukung pelestarian Rafflesia.
Selain itu, penelitian di bidang kultur in-vitro dan filogeni juga dilakukan guna mengungkap lebih dalam siklus hidup serta karakter biologis tumbuhan unik yang tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati ini.
Ketertarikan terhadap Rafflesia tidak hanya datang dari dalam negeri. Sejumlah peneliti internasional turut terlibat dalam riset lintas negara, khususnya dalam kajian genetika dan filogeni.
Salah satunya adalah Prof. Charles Davis dari Harvard University, yang menaruh perhatian besar pada asal-usul dan sejarah evolusi Rafflesia.
Kontribusi ilmuwan dari Malaysia, Filipina, hingga Thailand juga memperkaya kajian taksonomi dan biologi bunga langka ini.
Kolaborasi global tersebut menunjukkan bahwa upaya penyelamatan Rafflesia telah menjadi perhatian komunitas ilmiah dunia.
Rafflesia tidak lagi dipandang sekadar sebagai flora endemik suatu wilayah, melainkan sebagai warisan keanekaragaman hayati global yang memiliki nilai ilmiah tinggi.
Meski demikian, para peneliti menilai masih terdapat tantangan besar dalam konservasi Rafflesia, terutama minimnya kajian terhadap tumbuhan inangnya, Tetrastigma spp.