Kasus ISPA Karhutla Tembus 333 Ribu Jiwa

Karhutla
Sumber :
  • Padang Viva

Padang – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerpa sejumlah wilayah di Indonesia berdampak serius terhadap kualitas kesehatan masyarakat.

img_title ASDP Tanggung Kerugian Korban Kebakaran KMP Batumandi di Pelabuhan Merak, Pendataan Ganti Rugi Mulai Dilakukan

Menanggapi situasi tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama otoritas daerah mengintensifkan dukungan layanan medis serta menyiagakan ribuan fasilitas kesehatan bagi warga terdampak kabut asap.

Kemenkes mengintervensi krisis kesehatan ini dengan menyiagakan sebanyak 1.691 puskesmas dan memobilisasi logistik medis secara masif di wilayah terdampak.

img_title Aksi Protes Greenpeace di Bundaran HI: Soroti Penanganan Kebakaran Hutan dan Krisis Iklim

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Dr. dr. Then Suyanti, menegaskan bahwa kesiapan infrastruktur kesehatan lapangan menjadi prioritas utama penanganan korban paparan asap.

Selain puskesmas, pemerintah telah menyiapkan 360 rumah sakit rujukan serta 87 laboratorium kesehatan masyarakat (Labkesmas) untuk mengantisipasi pasien bergejala berat.

img_title BNPB dan Kasad Pastikan Penanganan Karhutla Tepat Sasaran

Pemerintah daerah setempat juga menyediakan 491 rumah oksigen yang tersebar di berbagai titik rawan guna membantu warga yang mengalami gangguan pernapasan akut.

Kesiapan layanan medis ini didukung oleh pengerjaan puluhan ribu tenaga medis profesional di berbagai lini.

Sebanyak 18.547 dokter umum serta tim dokter spesialis—termasuk dokter spesialis paru, mata, THT, hingga DVE—diterjunkan ke lokasi krisis, dengan sokongan layanan darurat Public Safety Center (PSC) 119.

Eskalasi krisis kesehatan akibat kabut asap ini tercermin dari lonjakan drastis kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Data Kemenkes per 21 Oktober 2026 mencatat akumulasi kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla telah menembus angka 333.470 kasus yang terhitung sejak pertengahan Agustus 2026.

Sebaran ratusan ribu kasus ISPA tersebut teridentifikasi di 68 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi terdampak.

Dari total akumulasi pasien, sebanyak 258.298 kasus menyerang kelompok usia di atas 5 tahun, sementara 75.172 kasus lainnya menimpa balita rentan rentang usia 0 hingga 5 tahun.

Lonjakan penderita pernapasan ini berbanding lurus dengan memburuknya indeks kualitas udara akibat paparan partikel halus PM2.5 dan senyawa beracun.

Hasil pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan beberapa wilayah telah masuk kategori "Berbahaya" dengan nilai PM2.5 berada di atas ambang batas 300.

Guna mencegah memburuknya dampak kesehatan, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk rutin memantau ISPUnet pada aplikasi SATUSEHAT serta mengurangi aktivitas luar ruang.

Warga diimbau menggunakan masker, mencukupi asupan air putih, serta melindungi kelompok rentan seperti balita dan lansia dari pajanan asap.

Halaman Selanjutnya
img_title