Menguak Bahaya Tersembunyi di Balik Popularitas Film Squid Game

Film Squid Game
Sumber :
  • SC Netflix

Padang – Serial Korea Selatan "Squid Game" meledak menjadi fenomena global pada tahun 2021, memecahkan rekor penonton di Netflix dan memicu percakapan di seluruh dunia.

img_title Film Laptop Si Unyil Sukses Jadi Pelopor Edukasi Populer Anak Indonesia

Kisahnya yang gelap tentang permainan mematikan dengan hadiah uang fantastis, di mana peserta harus mempertaruhkan nyawa, berhasil menarik perhatian jutaan orang.

Namun, di balik popularitasnya, "Squid Game" menyimpan berbagai potensi bahaya dan dampak negatif yang perlu dicermati, terutama bagi penonton yang belum matang secara emosional dan kognitif.

img_title Kemendikdasmen dan BNPT Perkuat Sinergi Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan di Sekolah

Inti dari "Squid Game" adalah kekerasan yang brutal dan grafis. Adegan kematian yang sadis, tembak-menembak, hingga mutilasi ditampilkan secara terang-terangan.

Paparan berulang terhadap kekerasan semacam ini, terutama pada anak-anak dan remaja, dapat menyebabkan:

img_title Padang Tekan Stunting, Puskesmas Anak Air Perkuat Intervensi Dari Hulu Hingga Rujukan Medis

Desensitisasi: Menurunnya kepekaan terhadap kekerasan di dunia nyata, menganggapnya sebagai hal biasa atau bahkan normal.

Peningkatan Agresi: Beberapa penelitian menunjukkan korelasi antara paparan media kekerasan dengan peningkatan perilaku agresif, baik fisik maupun verbal.

Trauma Psikologis: Bagi individu yang rentan, adegan kekerasan dapat memicu kecemasan, mimpi buruk, atau bahkan trauma.

Popularitas "Squid Game" juga dianggap memicu anak-anak dan remaja untuk meniru permainan yang ada dalam serial, seperti "Lampu Merah, Lampu Hijau" atau permainan kelereng.

Meskipun niat awalnya mungkin hanya bermain, beberapa insiden telah dilaporkan di mana permainan ini diadaptasi dengan konsekuensi yang lebih ekstrem atau melibatkan intimidasi dan kekerasan antar teman, meniru hukuman dalam serial.

Serial ini menggambarkan situasi di mana manusia dipaksa untuk mengkhianati, membunuh, dan memanipulasi demi uang dan kelangsungan hidup.

Ini dapat menimbulkan pertanyaan etis yang kompleks bagi penonton muda yang belum sepenuhnya memahami nuansa moral:

Normalisasi Kekejaman: Kekejaman dan pengkhianatan ditampilkan sebagai cara untuk bertahan hidup, yang bisa menormalisasi tindakan tersebut dalam pikiran penonton muda.

Materialisme Ekstrem: Plot berpusat pada pengejaran uang tanpa batas, yang dapat menguatkan pandangan bahwa uang adalah satu-satunya tujuan hidup, mengalahkan nilai-nilai kemanusiaan lainnya.

Tema-tema seperti tekanan finansial ekstrem, keputusasaan, dan ketidakpastian hidup dapat memicu kecemasan atau ketakutan pada penonton yang sensitif.

Halaman Selanjutnya
img_title