Update Tragedi Sidoarjo: 6 Korban Terdengar Bertahan di Reruntuhan Ponpes Al Khoziny, 3 Tewas
- Humas BNPB
Padang – Tim gabungan terus berjibaku dalam operasi evakuasi insiden runtuhnya Pondok Pesantren Al Khoziny di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Berdasarkan data absensi santri yang dirilis BNPB, terdapat 91 orang yang diduga tertimbun material bangunan saat proses pengecoran lantai empat.
Fokus utama penyelamatan saat ini adalah pada enam korban yang terindikasi masih bertahan hidup di salah satu segmen reruntuhan.
Tim SAR gabungan berhasil menyalurkan makanan dan minuman melalui celah-celah kecil untuk menjaga kondisi para korban tersebut.
"Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) melibatkan 332 personel gabungan dari BASARNAS, BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Sidoarjo, TNI, Polri, dan relawan dari Jombang, Mojokerto, dan Nganjuk. Mereka bekerja secara bergantian untuk menjaga stamina tim,"kataKepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Rabu 1 Oktober 2025.
Meski alat berat telah disiagakan, penggunaannya masih ditunda. Ada kekhawatiran bahwa getaran dari alat berat justru akan memperparah kondisi reruntuhan dan membahayakan korban yang masih hidup.
Tim pun memprioritaskan metode penyelamatan manual, sambil menunggu asesmen Basarnas.
Jika dinyatakan tidak ada lagi korban hidup, barulah alat berat akan digunakan untuk mengevakuasi korban meninggal dunia.
Saat ini, tim ahli konstruksi juga tengah merumuskan langkah teknis untuk membersihkan puing secara aman, memastikan tidak ada reruntuhan susulan yang terjadi.
Hingga Selasa pukul 19.00 WIB, tercatat 100 orang terdampak dalam insiden ini dengan rincian, meninggal dunia 3 orang, dirawat inap: 26 orang, pulang 70 orang, Rujuk ke RS Mojokerto 1 pasien
Korban luka-luka dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan utama, termasuk RSUD RT Notopuro, RS Siti Hajjar, RS Delta Surya, RS Sheila Medika, dan RS Unair.
Sebagian besar pasien masih menjalani perawatan intensif di RSUD RT Notopuro (8 pasien rawat inap) dan RS Siti Hajjar (11 pasien rawat inap).
Insiden ini, dikategorikan sebagai bencana kegagalan teknologi berdasarkan UU No. 24 Tahun 2007, menarik perhatian langsung dari Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto.
Guna memberikan dukungan dan pendampingan, Kepala BNPB dijadwalkan akan meninjau lokasi bencana pada Rabu 1 Oktober 2025.