Adaptasi Senyap Komunitas Gay di Kota Padang
- Pixabay/geralt
Padang – Dalam kehidupan sosial masyarakat yang majemuk, homoseksual atau gay sebagai bagian dari kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender), hadir sebagai realitas sosial yang tak bisa diabaikan.
Secara sosiologis, homoseksual dipahami sebagai individu yang memiliki ketertarikan romantis dan emosional terhadap sesama jenis.
Namun, dalam konteks masyarakat Padang yang berpegang pada adat Minangkabau, keberadaan gay masih dianggap tabu dan bertentangan dengan norma adat serta nilai agama.
Minangkabau dikenal dengan falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, yang menegaskan bahwa adat harus berpijak pada ajaran Islam. Karena itu, perilaku homoseksual sering kali dinilai sebagai penyimpangan moral dan sosial.
Penolakan ini menyebabkan sebagian besar kaum gay di Padang menjalani kehidupan mereka secara tersembunyi.
Hesty Diana dan Mira Hasti Hasmira dari Universitas Negeri Padang mengungkap hasil riset mereka pada Jurnal Perspektif yang diterbitkan pada Juni 2025.
RW (25 tahun), salah satu gay yang menjadi responden dalam penelitian Hesty Diana dan Mira Hasti Hasmira menyebut bahwa masyarakat kerap menganggap orientasi mereka sebagai “penyakit sosial” yang menular, sehingga mereka terpaksa menyesuaikan diri agar bisa tetap diterima di lingkungan sekitar.
Meski menghadapi stigma sosial, komunitas gay di Padang berupaya untuk tetap menjalani kehidupan sosial sebagaimana masyarakat lainnya.
Mereka tetap berinteraksi di lingkungan tempat tinggal, mengikuti kegiatan sosial, dan melaksanakan ibadah.
Beberapa titik di Kota Padang seperti kawasan GOR Haji Agus Salim, tempat hiburan malam, serta sejumlah rumah kos disebut menjadi lokasi berkumpulnya komunitas gay.
Aktivitas mereka umumnya berlangsung pada malam hari untuk menghindari perhatian publik dan menjaga privasi.
Di lingkungan internal, komunitas ini juga memiliki istilah sosial khas seperti top, bottom, dan versatile yang menggambarkan peran dalam hubungan mereka.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 menunjukkan bahwa Kota Padang termasuk wilayah dengan populasi LGBT tertinggi di Sumatera Barat.
Sebanyak 64,6% responden dalam survei tersebut mengaku memiliki orientasi homoseksual, sementara 46,3% mengidentifikasi diri sebagai gay.
Angka ini menunjukkan bahwa fenomena homoseksual bukanlah hal baru, melainkan bagian dari dinamika sosial yang terus berkembang.