Membedah Broken Strings Karya Aurelie Moeremans: Perspektif Dekonstruksi dan Makna di Balik Luka Yang Ada

Link Buku Broken Strings, Aurelie Moeremans.
Sumber :
  • (Instagram/aurelie)

Padang –Membaca Broken Strings karya Aurelie Moeremans melalui kacamata dekonstruksi Jacques Derrida berarti kita tidak lagi mencari satu makna tunggal yang mutlak.

img_title Tinjauan Feminis, Post-kolonial, Hingga Marxis Tentang Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans

Dalam perspektif post-strukturalisme, judul "Broken Strings" atau dawai yang putus tidak hanya dipandang sebagai simbol kerusakan atau kegagalan.

Sebaliknya, dekonstruksi melihat "kerusakan" tersebut sebagai sebuah kehadiran baru; bahwa dalam setiap dawai yang putus, terdapat ruang kosong yang justru memberikan kesempatan bagi narasi-narasi lain untuk muncul dan menantang struktur "keutuhan" yang selama ini dianggap ideal oleh masyarakat.

img_title Membedah Buku Broken Strings Aurelie Moeremans: Perspektif Teori Resepsi dan Estetika Pembaca

Dalam narasi trauma yang disampaikan Aurelie, terjadi pergulatan antara "kehadiran" dan "ketidakhadiran." Secara dekonstruktif, buku ini membedah oposisi biner antara si korban dan si pelaku, atau antara luka dan kesembuhan.

Aurelie menunjukkan bahwa kesembuhan tidak berarti hilangnya luka, melainkan jejak (trace) yang akan selalu ada dan menjadi bagian dari identitas yang terus berubah.

img_title Menguak Makna Mendalam Broken Strings, Perjalanan Aurelie Moeremans Menyembuhkan Luka Masa Lalu

Penulis tidak memposisikan dirinya sebagai subjek yang sudah sepenuhnya "selesai" dengan masalahnya, melainkan sebagai subjek yang terus berproses dalam aliran makna yang tidak pernah stabil.

Dekonstruksi terhadap Broken Strings juga mengungkap bagaimana bahasa seringkali gagal untuk menangkap esensi trauma yang sebenarnya.

Aurelie menggunakan diksi puitis untuk menggambarkan rasa sakit, namun di saat yang sama, penggunaan metafora "dawai" menunjukkan adanya ketidakcukupan bahasa dalam merepresentasikan realitas emosional.

Ada makna yang selalu tertunda (différance) dalam setiap baris kalimatnya, di mana pembaca diajak untuk menemukan arti mereka sendiri di sela-sela kata-kata yang tidak terucapkan, membuat pengalaman membaca buku ini menjadi sangat personal dan subjektif.

Lebih lanjut, buku ini meruntuhkan struktur kekuasaan dalam sebuah hubungan toxic yang seringkali diselimuti oleh narasi "cinta demi pengorbanan."

Melalui proses pembedahan teks, kita melihat bahwa Aurelie melakukan dekonstruksi terhadap konsep cinta tradisional yang selama ini menuntut kepatuhan.

Ia membalikkan posisi subjek yang tadinya pasif menjadi aktif melalui tulisan. Di sini, tulisan bukan sekadar refleksi dari kenyataan, melainkan sebuah tindakan subversif untuk menghancurkan hegemoni masa lalu yang mencoba mengurung suaranya.

Halaman Selanjutnya
img_title