Tradisi atau Pamer? Mengapa Flexing Lebaran Kian Tak Terkendali

Ilustrasi Halal Bihalal
Sumber :
  • freepik

Padang – Gema takbir belum lama berlalu, namun fenomena "Flexing Lebaran" kembali menjadi sorotan tajam di jagat maya dan kehidupan nyata. Di tengah momen kemenangan yang seharusnya sakral, perilaku pamer kekayaan atau pencapaian justru seringkali menutupi esensi spiritual Idul Fitri.

img_title Dukung Sport Tourism Sumbar, Asuransi Jasindo Jadi Mitra Perlindungan Minang Geopark Run 2026

Fenomena ini terlihat jelas dari maraknya unggahan di media sosial yang memamerkan deretan mobil mewah di kampung halaman, tumpukan uang tunai untuk salam tempel, hingga penggunaan perhiasan mencolok saat silaturahmi. Sayangnya, di balik kemilau tersebut, tak sedikit masyarakat yang memaksakan diri secara finansial demi mendapatkan pengakuan sosial.

Berdasarkan pengamatan pakar keuangan, tren flexing saat lebaran seringkali didorong oleh dorongan psikologis untuk dianggap sukses setelah merantau. Di banyak komunitas, keberhasilan seseorang masih diukur secara visual melalui barang-barang bermerek atau kendaraan yang dikendarai.

img_title Gelar Master Plan Batang Arau-Kota Tua, Pemko Padang Siapkan Destinasi Wisata Berkelas Internasional

"Banyak yang terjebak dalam logika 'asal terlihat mampu'. Padahal, tidak sedikit dari barang-barang tersebut didapat melalui pinjaman online atau cicilan yang memberatkan," ungkap seorang pengamat sosial. Menurutnya, gaya hidup saat lebaran saat ini seringkali lebih keras daripada logika manajemen keuangan yang sehat.

Secara psikologis, flexing menciptakan standar semu yang melelahkan. Bagi pelaku, ada tekanan untuk selalu tampil lebih baik setiap tahunnya. Sementara bagi lingkungan sekitar, hal ini dapat memicu rasa rendah diri atau kecemburuan sosial.

img_title Mengangkat Potensi Pangan Lokal, Ubi Ungu dan Ube Jadi Primadona Industri Dessert Kekinian

Esensi Lebaran yang seharusnya menjadi ajang penyambung tali silaturahmi dan permohonan maaf, bergeser menjadi ajang kompetisi status ekonomi. Logika konsumsi yang sehat dikesampingkan demi pujian sesaat dari kerabat dan tetangga. Akibatnya, banyak pemudik yang kembali ke kota dengan kantong kosong, bahkan terjerat utang yang harus dicicil hingga berbulan-bulan setelah Lebaran usai.

Para ahli menyarankan agar masyarakat mulai memprioritaskan "wealth" (kekayaan nyata) daripada "status" (tampilan luar). Pengaturan anggaran mudik yang ketat dan pemahaman bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh merek pakaian adalah kunci untuk menghindari jebakan flexing.

Pemerintah dan tokoh masyarakat juga terus menghimbau agar perayaan Idul Fitri dilakukan secara sederhana dan bersahaja. Memamerkan keberhasilan boleh saja sebagai bentuk rasa syukur, namun jika tujuannya hanya untuk merendahkan orang lain atau demi validasi semu, maka nilai dari ibadah puasa sebulan penuh patut dipertanyakan kembali.

Halaman Selanjutnya
img_title