MTN Sastra Padang 2025: Jalan Baru Dunia Kesusastraan Sumbar

Ahmad Fuadi
Sumber :
  • Istimewa

Padang – Sumatera Barat telah dikenal sebagai salah satu penghasil sastrawan berbakat. Seperti banyak wilayah lain di Indonesia, ia punya sejarah kesusastraan yang panjang.

img_title Mengenal Nasi Tungkuih Daun, Kuliner Autentik Simbol Budaya Minangkabau

Di masa kini pun, bakat dan potensi itu masih ada. Namun, segala potensi itu belum terkelola dengan memadai. Berkarir di bidang sastra, kadang dirasa 'menakutkan'.

Berbeda dengan profesi lainnya, dunia sastra tak punya jalur karir yang jelas, termasuk di Sumatera Barat.

img_title Cegah Kekerasan, Ombudsman Sumbar Minta Satgas Anti-Perundungan Segera Dibentuk

Para sastrawan harus berdarah-darah sendirian, atau berjuang bersama komunitas yang kadang tak panjang umurnya, mulai dari proses penciptaan, hingga promosi dan distribusi karya. Semua dilakukan tanpa adanya sistem tata kelola yang jelas dan profesional. 

Secercah harapan kini muncul. Tahun ini, Kementerian Kebudayaan RI, tengah menjalankan program yang dirancang khusus untuk mengatasi persoalan di atas. Program itu bernama Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN Seni Budaya). 

img_title Jalur Kereta Api Kayu Tanam–Padang Panjang Direaktivasi, Ekonomi Sumbar Siap Tumbuh

Kota Padang menjadi salah satu titik penyelenggaraannya tepatnya di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), pada 8-9 September 2025 mendatang. Dengan panggilan terbuka untuk 2000 talenta agar ikut berpartisipasi. 

"Di Padang sendiri, MTN Seni Budaya akan fokus pada bidang sastra," jelas Koordinator Kegiatan MTN Sastra Padang S. Metron Masdison. 

"MTN Sastra punya beberapa tujuan. Salah satunya untuk mencari calon bibit sastrawan dalam jumlah besar. Diakui atau tidak, selama satu dekade terakhir, sastrawan Sumatera Barat jauh berkurang secara kualitas dan kuantitas," lanjutnya. 

Masih kata Metron, sastra merupakan salah satu galeri terbesar munculnya sastrawan dari Sumbar, atau beretnik Minang. "

Satu-satunya wahana sastra hanyalah bahasa, dan bagi Orang Minang, bahasa atau Kato tak hanya sebagai pusaka tertinggi, tapi juga sebagai pamenan (gelanggang bermain), sejak mereka dalam kandungan malah," tambahnya. 

Ratih Kumala

Photo :
  • Istimewa

Sayangnya, masih mengutip Metron, galeri itu, perlahan-lahan mulai menjadi tempat ziarah. Meski masih kampiun dalam berbagai ajang, tapi tidak lagi merajai secara narasi. Baik tenggelam oleh rezim atau jungkat-jungkit politik kesenian.

Karena itulah ia melihat pentingnya kehadiran MTN Sastra di Padang. 

"Lewat program ini, para talenta yang ada di Sumbar akan dipertemukan dengan sastrawan-sastrawan Indonesia dalam ajang MTN Asah Bakat dan MTN IkonInspirasi."

Halaman Selanjutnya
img_title