Aktivitas Kegempaan Gunung Marapi Meningkat

Gunung Marapi di Sumbar
Sumber :
  • Adriana Adie

Padang – Aktivitas vulkanik Gunung Marapi yang terletak di wilayah Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, kembali menunjukkan peningkatan.

Berdasarkan pengamatan terbaru yang dirilis PVMBG, intensitas kegempaan di gunung berapi setinggi 2.891 meter di atas permukaan laut ini mencatatkan pergerakan yang signifikan.

Laporan resmi pengamatan pada kurun waktu Jumat (25/9/2026) pukul 00.00 hingga 24.00 WIB mencatat bahwa status Gunung Marapi masih bertahan pada Tingkat Aktivitas Level II atau Waspada.

Meskipun demikian, munculnya deretan gempa vulkanik dan tremor mengindikasikan dinamika tekanan dari dalam perut gunung yang perlu diwaspadai secara seksama.

Dari segi visual, puncak Gunung Marapi teramati cukup jelas di tengah kondisi cuaca yang berubah-ubah dari cerah, berawan, hingga turun hujan.

Asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang bertekanan lemah teramati membumbung setinggi 75 hingga 100 meter di atas kawah utama.

Secara meteorologi, suhu udara di sekitar area pegunungan berkisar antara 17,7 hingga 22 derajat Celsius dengan kelembaban tinggi mencapai 94,8 hingga 100 persen.

Angin bertiup lemah ke arah utara dan tenggara, diiringi curah hujan harian sebesar 0,35 milimeter yang mengguyur kawasan lereng.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Marapi, Ahmad Rifandi, mengonfirmasi bahwa instrumen pencatat kegempaan merekam sebanyak 14 kali gempa hembusan dengan amplitudo 3,3 milimeter dan durasi hingga 32 detik.

Selain itu, dinamika fluida di bawah permukaan ditunjukkan oleh hadirnya 32 kali gempa Tremor Non-Harmonik.

Tidak hanya gempa hembusan dan tremor non-harmonik, alat seismograf juga mencatat adanya satu kali gempa Vulkanik Dalam (VA) serta dua kali gempa Tektonik Jauh.

Aktivitas mikro juga masih berlanjut yang ditandai dengan perekaman Tremor Menerus (microtremor) dengan amplitudo dominan sebesar 3,5 milimeter.

Menyikapi peningkatan dinamika kegempaan ini, Badan Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi ketat guna menjaga keselamatan warga.

Masyarakat, pendaki, maupun wisatawan dilarang keras memasuki serta beraktivitas di dalam zona bahaya radius 3 kilometer dari pusat erupsi Kawah Verbeek.

Ancaman bahaya sekunder berupa banjir lahar dingin juga menjadi perhatian utama, khususnya bagi warga yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Marapi.