Seekor Bayi Harimau Sumatera Mati di TMSBK Bukittinggi

Ilustrasi Harimau. Foto/Andri Mardiansyah
Sumber :

Padang – Kabar duka kembali menyelimuti dunia konservasi Indonesia. Seekor bayi harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang baru lahir dilaporkan mati di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

img_title BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Sumbar 28–30 Oktober 2026: Waspada Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat, Hartono menyebut, bayi Harimau Sumatera ini lahir pada Rabu pagi 24 Juni 2025 dari perkawinan induk Bujang Mandeh dan Yani.

Pasca kelahiran itu kata Hartono, Tim Dokter TMSBK Bukittinggi bersama keeper melakukan pemantauan terhadap Yani dan anaknya yang baru lahir. 

img_title Potret Kesiapan Energi di Balik Operasional Haji 2026

Kondisi awal pasca melahirkan, Induk Yani terlihat sangat lelah dan belum mau menyusui anaknya. Meski demikian, menjelang siang hari Yani mulai mau menyusukan anaknya.

Lalu, pada hari Minggu tanggal 29 Juni 2025 Yani terlihat stress dan tidak mau menyusukan anaknya, kondisi cuaca yang kering dan panas memperburuk kondisi anak Yani. 

img_title Komitmen Penanganan Bencana, Wali Kota Pariaman Yota Balad Raih Penghargaan Pemda Inspiratif dari IJTI Sumbar

"Namun, setelah induknya mau menyusui hingga senin malam, kondisi bayi Harimau ini mulai membaik,"kata Hartono, dikutip dari keterangan resminya, Kamis 3 Juli 2025.

Hartono bilang, pada hari Selasa 1 Juli 2025 dinihari, kondisi Yani kembali gelisah dan tidak mau menyusui anaknya, sehingga anak Yani terlihat kelelahan dan terbaring lemas. 

Tim kemudian berupaya untuk memberikan pertolongan dengan evakuasi dan membawa anak Yani ke klinik untuk perawatan. Setelah tindakan, kondisi anak Yani sedikit membaik. 

"Perawatan terus dilakukan, tetapi nafas anak Yani masih belum stabil. Setelah berbagai upaya penyelamatan yang dilakukan Tim Dokter dan keeper, akhirnya anak Yani tidak terselamatkan dan menghembuskan nafas terakhir pada hari Selasa pagi 1 Juli 2025,"ujar Hartono.

Selanjutnya menurut Hartono, tim melakukan nekropsi terhadap anak Yani. Berdasarkan hasil nekropsi yang dilakukan, tidak ditemukan adanya kelainan pada organ-organ tubuh anak Yani.

"Tim menyimpulkan bahwa kematian anak Yani disebabkan karena dehidrasi dan kurangnya asupan nutrisi dari induknya Yani,"tutup Hartono.