PEH Disebut Bakal Jadi Kekuatan Besar Sektor LHK

Pembukaan Munas IPEHINDO, Selasa 22 November 2022
Pembukaan Munas IPEHINDO, Selasa 22 November 2022
Sumber :
  • Humas KLHK

Padang – Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Lingkungan, Alue Dohong menyebut jika Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Indonesia, bakal menjadi  kekuatan besar untuk mendukung pembangunan bangsa khususnya di sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

PEH juga kata Alue, merupakan sumber daya manusia yang sangat potensial yang harus terus ditingkatkan kemampuan, kompetensi, kapasitas maupun kapabilitasnya.

"Fungsional PEH harus memiliki semangat, menjunjung tinggi integritas, selalu motivasi diri dalam memanfaatkan potensinya masing-masing agar memberi kontribusi dan sumbangsih untuk pembangunan sektor LHK dalam rangka kemajuan bangsa Indonesia. Saya yakin, PEH sangat berpotensi dalam hal ini,"kata Alue Dohong, melalui keterangan resminya, Kamis 24 November 2022.

Lebih lanjut, Wamen Alue Dohong mengatakan bahwa, KLHK telah mencanangkan Indonesia Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 sebagai langkah strategis kontribusi sektor kehutanan dalam upaya pengendalian perubahan iklim di tingkat nasional maupun global.

"Oleh karena itu, PEH harus berperan aktif dalam mengimplementasikan dalam rencana operasional yang telah ditetapkan baik di tingkat nasional maupun sub-nasional," ujar Wamen Alue.

Alue juga bilang, salah satu isu penting saat ini yaitu biodiversity loss yaitu hilangnya keanekaragaman hayati di dalam ekosistem hutan Indonesia. PEH harus dapat berkontribusi dalam upaya konservasi agar keberadaan biodiversity agar tetap terjaga kelestariannya. 

Sedangkan untuk mendukung pemanfaatan hutan secara lestari dan berkelanjutan, masyarakat sekitar kawasan hutan dan daerah penyangga diberi hak kelola dalam bentuk kelompok tani hutan, perhutanan sosial serta kemitraan konservasi, kehutanan dan lingkungan. 

"Untuk itu, peran PEH dalam pendampingan masyarakat sangat dibutuhkan serta berkolaborasi dengan fungsional lainnya seperti Penyuluh Kehutanan dan Penyuluh Lingkungan Hidup,"kata Alue.

Selain itu, Alue Dohong menegaskan saat ini terdapat komitmen kerja sama sektor kehutanan tingkat ASEAN antara lain dalam forum ASEAN Senior Officials on Forestry (ASOF) meliputi CITES and Wildlife Enforcement, Forest Management, Social Forestry, Forest and Climate Change, Forest Product Development. 

Maka, PEH harus memahami komitmen di level ASEAN tersebut serta menjabarkannya dalam pelaksanaan pengendalian ekosistem hutan. Perlu kontribusi kita semua. Terutama kontribusi PEH.

Untuk di tingkat tapak kata Alue, PEH juga harus berperan sebagai jembatan antara sains menjadi bahan kebijakan berkolaborasi dengan peneliti dan pihak lain. 

Peningkatan kapasitas PEH dalam mengaktualisasikan hasil penelitian atau kajian berbasis sains perlu ditingkatkan melalui pelatihan karya tulis ilmiah, jurnal nasional maupun internasional. 

"Nah, hasil karya ilmiah tersebut, nantinya dapat menjadi bahan kebijakan yang bermanfaat bagi kementerian,"tutup Alue Dohong.