Kisah Jagung: Dari Teosinte Liar hingga Makanan Pokok Dunia
- iStock
Padang – Jagung (Zea mays) merupakan salah satu tanaman pangan terpenting di dunia, bersanding dengan gandum dan padi.
Namun, di balik perannya yang krusial saat ini, jagung memiliki sejarah yang panjang dan menakjubkan.
Perjalanannya dimulai ribuan tahun lalu, dari tanaman liar yang tampak tak menjanjikan di Mesoamerika, hingga menjadi tanaman yang menopang peradaban dan ekonomi global.
Asal-usul jagung dapat ditelusuri kembali ke Meksiko selatan sekitar 8.000 hingga 10.000 tahun yang lalu.
Nenek moyang jagung modern adalah tanaman liar bernama teosinte. Teosinte memiliki tongkol yang sangat kecil dengan hanya sedikit biji-bijian yang terbungkus kulit keras.
Berkat domestikasi yang dilakukan oleh masyarakat pribumi di wilayah tersebut, teosinte perlahan-lahan berevolusi.
Melalui seleksi bibit yang dilakukan secara bertahun-tahun, manusia berhasil menciptakan varietas jagung dengan tongkol yang lebih besar, biji yang lebih banyak, dan kandungan pati yang lebih tinggi, menjadikannya sumber pangan yang efisien.
Jagung kemudian menjadi jantung peradaban kuno di Mesoamerika. Bagi suku Maya, Aztec, dan Indian, jagung bukan hanya makanan pokok, tetapi juga elemen sentral dalam budaya dan spiritualitas mereka.
Jagung dianggap sebagai anugerah dari dewa-dewa, dan keberadaannya membentuk sistem pertanian, mitologi, hingga ritual keagamaan.
Jagung memungkinkan populasi mereka tumbuh dan berkembang, menopang peradaban yang canggih dengan sistem irigasi dan kalender yang rumit.
Penyebaran jagung ke seluruh dunia dimulai pada abad ke-15, setelah penjelajahan Christopher Columbus.
Columbus menemukan jagung di Kuba pada tahun 1492 dan membawanya ke Spanyol. Dari sana, jagung dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa, Afrika, dan Asia melalui jalur perdagangan dan penjelajahan.
Para penjelajah melihat potensi besar jagung sebagai tanaman yang mudah tumbuh dan beradaptasi di berbagai iklim, sehingga menjadikannya komoditas penting dalam ekspansi mereka.
Di Indonesia, jagung diperkenalkan oleh bangsa Portugis dan Spanyol sekitar 400 tahun yang lalu, pada abad ke-16.
Tanaman ini dengan cepat diadopsi oleh masyarakat lokal, terutama di daerah-daerah yang memiliki curah hujan minim dan lahan kering, seperti Madura, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara.