Harga Bitcoin Terjun Bebas, Ini Penyebabnya
- Shutterstock
Padang – Pasar aset kripto kembali diguncang sentimen negatif setelah harga Bitcoin (BTC) dilaporkan merosot tajam pada perdagangan pekan pertama Februari 2026. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini sempat menyentuh level terendah harian di kisaran US$ 61.000 (sekitar Rp 1,02 miliar), menghapus sebagian besar keuntungan yang diraih sejak akhir tahun lalu.
Berdasarkan data dari CoinMarketCap pada Sabtu (7/2/2026), Bitcoin mencatatkan penurunan hingga 11,5 persen dalam 24 jam terakhir. Jika ditarik dalam rentang waktu sepekan, koreksi harga telah menembus angka 20 persen. Kondisi ini memicu efek domino bagi aset digital lainnya seperti Ethereum (ETH) dan Solana (SOL) yang juga ikut terkoreksi lebih dari 10 persen.
Penyebab Utama Kejatuhan Sejumlah analis pasar menunjuk beberapa faktor krusial di balik merosotnya harga "emas digital" ini:
Arus Keluar ETF Institusional: Laporan dari CryptoQuant menunjukkan bahwa ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat, yang sebelumnya menjadi penopang harga, kini berbalik menjadi penjual bersih (net seller) sepanjang awal 2026.
Likuidasi Posisi Leverage: Data Coinglass mengungkapkan lebih dari US$ 2 miliar (sekitar Rp 31,8 triliun) posisi long para trader terlikuidasi secara paksa akibat penurunan harga yang tiba-tiba, mempercepat laju kejatuhan pasar.
Sentimen Makroekonomi: Investor cenderung beralih ke aset safe haven tradisional seperti emas menyusul ketidakpastian kebijakan suku bunga Federal Reserve dan ketegangan geopolitik global.
"Penurunan di bawah level psikologis US$ 70.000 memicu kepanikan di kalangan investor ritel. Saat ini pasar sedang dalam fase kapitulasi, di mana banyak pemegang aset memilih keluar untuk mengamankan modal yang tersisa," ujar seorang analis senior dari 10X Research.
Dampak pada Kapitalisasi Pasar Anjloknya harga Bitcoin menyebabkan kapitalisasi pasar kripto global terpangkas sekitar US$ 130 miliar atau setara Rp 2.187 triliun dalam kurun waktu satu hari saja. Para ahli memperingatkan bahwa jika Bitcoin gagal mempertahankan area support di level US$ 60.000, ada potensi harga akan terus meluncur hingga ke kisaran US$ 50.000-an.
Hingga berita ini diturunkan, volatilitas di pasar kripto masih sangat tinggi. Para investor diimbau untuk tetap waspada dan melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan investasi di tengah tren pasar yang sedang bearish ini.