Sannakji: Sensasi Kuliner Ekstrem Korea Selatan
- visitkorea
Padang –Korea Selatan tidak hanya populer dengan budaya K-Pop, tetapi juga dengan ragam kulinernya yang unik dan menantang. Salah satu yang paling menarik perhatian dunia adalah Sannakji, hidangan gurita mentah yang disajikan saat saraf-sarafnya masih aktif bergerak di atas piring.
Secara etimologi, Sannakji berasal dari kata "san" yang berarti hidup dan "nakji" yang merujuk pada jenis gurita kecil berukuran sedang (Octopus minor). Berbeda dengan anggapan umum, Sannakji bukanlah bayi gurita, melainkan spesies spesifik yang memang memiliki ukuran tubuh kecil namun bertentakel panjang.
Penyajian Sannakji tergolong sederhana namun membutuhkan kecepatan. Gurita segar diambil langsung dari tangki air, dibersihkan, lalu dipotong-potong kecil. Meski sudah terpisah dari tubuhnya, tentakel tersebut tetap bergerak karena aktivitas sistem saraf otonom yang kompleks.
Potongan gurita ini biasanya disajikan dengan siraman minyak wijen dan taburan biji wijen untuk memberikan aroma gurih. Beberapa restoran juga menyajikannya secara utuh (whole octopus) yang digulung pada sumpit, meskipun cara ini jauh lebih berisiko bagi pemula.
Dibalik popularitasnya, Sannakji menyandang predikat sebagai salah satu makanan paling berbahaya di dunia. Bahaya utamanya bukan terletak pada racun, melainkan pada alat penghisap (suction cups) yang ada pada tentakel gurita.
Jika tidak dikunyah dengan sempurna hingga benar-benar lumat, tentakel yang masih aktif tersebut dapat menempel erat di tenggorokan atau pangkal lidah. Hal ini berisiko menutup jalan napas dan menyebabkan kematian akibat tersedak (asfiksia). Kasus kematian akibat mengonsumsi Sannakji dilaporkan terjadi hampir setiap tahun di Korea Selatan, yang membuat hidangan ini memerlukan kewaspadaan tinggi.
"Kunci utama menikmati Sannakji adalah mengunyahnya hingga benar-benar halus sebelum ditelan," ujar seorang koki di Pasar Ikan Noryangjin, Seoul. Para ahli menyarankan untuk mengunyah setidaknya 50 hingga 100 kali agar tentakel kehilangan daya hisapnya.
Bagi masyarakat lokal, mengonsumsi Sannakji bukan sekadar tren mukbang. Sejak zaman dahulu, hidangan ini dipercaya dapat meningkatkan stamina dan kekuatan fisik. Bahkan, para atlet olahraga tradisional Kendo sering mengonsumsinya untuk menjaga kondisi tubuh tetap prima.
Kini, Sannakji menjadi daya tarik utama bagi turis mancanegara yang berkunjung ke pasar-pasar ikan besar seperti Noryangjin di Seoul atau Jagalchi di Busan. Bagi mereka, menyantap Sannakji adalah bentuk keberanian dan pengalaman budaya yang tidak terlupakan. Namun bagi wisatawan, ini adalah ujian adrenalin di atas meja makan.