Wabup Solok Selatan Ingatkan Bahaya Fenomena 'Fatherless
- Kominfo Solsel
Padang – Pemerintah Kabupaten Solok Selatan memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 yang diintegrasikan dengan pelaksanaan Apel Gabungan Aparatur Sipil Negara (ASN).
Momentum ini dimanfaatkan untuk menegaskan kembali krusialnya sistem pengasuhan internal keluarga dalam mencetak generasi masa depan yang kompetitif.
Agenda rutin tersebut berlangsung di Halaman Kantor Bupati Solok Selatan pada Senin kemarin.
Jalannya apel dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Solok Selatan, Yulian Efi, serta dihadiri oleh seluruh jajaran ASN dan Penyuluh Keluarga Berencana (KB) lintas kecamatan.
Saat membacakan pidato Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wabup Yulian Efi menyatakan bahwa potret masa depan Indonesia ditentukan oleh ketahanan domestik.
Menghadapi puncak bonus demografi, transformasi kualitas sumber daya manusia (SDM) tidak bisa lagi ditunda.
"Transformasi kualitas SDM tidak dimulai dari bangku sekolah atau dunia kerja. Langkah krusial ini justru bermula sejak anak berada di dalam rahim ibu dan optimalisasi pola pengasuhan keluarga," ujar Yulian Efi dikutip.
Dalam intervensi kebijakan tersebut, pemerintah secara makro telah memetakan tiga tantangan utama penataan SDM.
Sektor pertama adalah kesehatan yang berfokus pada mitigasi stunting, karena hambatan perkembangan otak akibat kurang gizi akan membuat anak sulit bersaing di era kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Guna mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Solok Selatan mendorong pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Langkah intervensi nutrisi spesifik ini ditargetkan harus mampu menjadi gerakan masif yang diadopsi di setiap dapur keluarga.
Tantangan kedua terletak pada ranah pendidikan karakter dengan mentransformasikan fungsi rumah sebagai 'madrasah abad 21.
Pola didikan yang mengedepankan integritas, kejujuran, dan disiplin dinilai menjadi modal utama agar anak tumbuh menjadi pribadi yang adaptif sekaligus kolaboratif.
Sementara tantangan ketiga adalah penguatan ketahanan mental guna menjadikan keluarga sebagai pelabuhan emosional yang stabil.
Ketahanan ini dinilai penting agar anak-anak memiliki resiliensi tinggi dan tidak mudah menyerah di tengah tekanan zaman yang serba cepat.
Wabup juga memberikan catatan kritis mengenai peran pengasuhan yang wajib diamanatkan kepada kedua orang tua, bukan hanya dibebankan pada ibu.