Gubernur Mahyeldi Tegaskan Pendidikan Alat Ampuh Putus Kemiskinan
- Humas Pemprov Sumbar
Padang – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi paling strategis dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Dharmasraya diharapkan menjadi titik balik bagi anak-anak keluarga kurang mampu untuk meraih pendidikan berkualitas secara gratis menuju Indonesia Emas 2045.
Mahyeldi menyebutkan bahwa, tidak ada strategi pembangunan sosial yang lebih berkelanjutan daripada mencerdaskan masyarakatnya sendiri.
Menurutnya, ketika seorang anak memperoleh akses pendidikan yang baik, masa depannya akan berubah dan memberikan dampak positif yang nyata hingga ke generasi-generasi berikutnya.
Lebih lanjut, Mahyeldi menginstruksikan agar pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, dijalankan secara edukatif, kreatif, dan ramah anak tanpa diwarnai tindakan kekerasan.
Ia menegaskan tidak boleh ada praktik perpeloncoan, intimidasi, maupun kekerasan fisik dan verbal yang dapat merendahkan martabat para siswa baru.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS), Wildan Humaidi, memastikan seluruh kebutuhan dasar siswa dipenuhi sepenuhnya oleh pemerintah.
Selain fasilitas asrama dan jaminan makanan bergizi, para siswa juga dibekali laptop untuk mendukung sistem belajar digital berbasis Learning Management System (LMS).
Wildan juga mengungkapkan bahwa SRT 3 Dharmasraya mencatatkan sejarah sebagai Sekolah Rakyat permanen pertama yang berdiri di Sumatera Barat.
Fasilitas ini menjadi bagian dari target pemerintah pusat untuk membangun 100 sekolah permanen setiap tahunnya hingga mencapai total 500 sekolah pada 2029 mendatang.
Dukungan senada disampaikan Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, yang menyebut kehadiran sekolah ini sebagai bentuk nyata hadirnya negara dalam memberikan hak pendidikan yang setara.
Pada tahun ajaran 2026/2027, SRT 3 Dharmasraya resmi menampung sebanyak 390 siswa dari berbagai daerah di Sumatera Barat.
Komposisi peserta didik tersebut mencakup 268 siswa asal Dharmasraya, masing-masing 60 siswa dari Kabupaten Solok dan Kota Padang, serta perwakilan dari Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Bukittinggi.
Seluruh siswa akan menjalani proses pembelajaran penuh di dalam kompleks sekolah berasrama tersebut.
Annisa turut membagikan kisah Rehan, anak berusia 10 tahun yang baru pertama kali bisa mengenyam bangku sekolah setelah diterima di SRT 3 Dharmasraya.