Elo Pukek”, Ketika Laut Menjadi Latar Kisah Cinta dan Kerinduan dalam Lagu Minang
- Adriana Adie
Padang – Lagu “Elo Pukek” merupakan salah satu karya yang memperlihatkan kuatnya hubungan antara kehidupan masyarakat pesisir dengan ekspresi seni dalam musik Minangkabau.
Diciptakan oleh Tiar Ramon dan A. Bakarudin, lagu ini dikenal melalui versi Tiar Ramon dan kemudian dipopulerkan pula oleh Fetty.
Di balik irama dan liriknya, lagu tersebut menyimpan cerita tentang aktivitas menangkap ikan, kehidupan nelayan, serta kerinduan seseorang terhadap pasangan yang berada di tengah laut.
Kata “pukek” dalam lagu menjadi simbol utama yang menghubungkan kehidupan manusia dengan laut
Aktivitas menarik pukat digambarkan melalui penggalan “Elo pukek yo lah rang eloan, sandang pandayuang lah baok pulang”.
Pukek atau pukat merupakan alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan, sementara pandayuang merujuk pada alat untuk menggerakkan perahu.
Gambaran tersebut membawa pendengar langsung ke ruang kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada laut.
Pada bagian awal, lirik menggambarkan aktivitas menarik pukat yang tidak mudah. “Kasiak angek pinggangnyo lah gantiang, namun pukek nan dielo juo” memperlihatkan kerja keras yang dilakukan berulang kali.
Pasir yang panas dan rasa lelah pada tubuh tidak menjadi alasan untuk berhenti. Dalam konteks ini, laut bukan sekadar latar cerita, tetapi juga ruang kerja yang menuntut tenaga, kesabaran dan ketekunan.
Kehidupan nelayan kemudian semakin kuat melalui gambaran perjalanan menggunakan perahu.
“Balayia kolek nan jo pincalang, kami mananti lah angin turun” menunjukkan ketergantungan aktivitas melaut terhadap kondisi alam.
Angin, gelombang dan arah perjalanan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir. Manusia dapat berusaha, tetapi tetap harus menyesuaikan diri dengan kekuatan alam.
Di tengah gambaran aktivitas melaut tersebut, muncul dimensi emosional berupa kecemasan dan kerinduan.
Adiak ka sansai nan di galombang, uda ka sansai di dalam alun menggambarkan dua orang yang sama-sama menghadapi kesulitan, tetapi berada dalam ruang yang berbeda.
Gelombang dan alun menjadi metafora keadaan sulit yang harus dilewati sebelum keduanya kembali bertemu.
Bagian “Ikan kerong baradai suto, lapuak tajamua di ateh pelang” semakin memperkaya gambaran dunia pesisir. Ikan, perahu dan aktivitas di laut menjadi bagian dari bahasa simbolik lagu.