Megaloman dan Ultraman Terlihat Mirip, Tapi Ternyata Berbeda Jauh
- ultra.fandom
Padang –Bagi penonton Indonesia yang tumbuh dengan tontonan superhero Jepang, sosok Megaloman mungkin sekilas mengingatkan pada Ultraman.
Keduanya sama-sama tampil sebagai pahlawan berukuran raksasa yang bertarung menghadapi monster dan menyelamatkan Bumi.
Kemiripan inilah yang kemudian membuat Megaloman pada masanya kerap dianggap sebagai Ultraman Gondrong atau bahkan kakek buyut Ultraman.
Namun, anggapan tersebut ternyata tidak benar.
Megaloman dan Ultraman merupakan dua karakter yang berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan resmi dalam hal produksi maupun cerita.
Keduanya memang sama-sama berada dalam genre Kyodai Hero, tetapi berasal dari studio dan pencipta yang berbeda sehingga tidak bisa dianggap sebagai bagian dari satu keluarga superhero.
Megaloman hadir melalui serial tokusatsu Jepang yang diproduksi pada 1979. Karakter tersebut diciptakan oleh Tetsu Kariya dan diproduksi oleh Toho Studios.
Sementara itu, Ultraman sudah lebih dahulu dikenal melalui serial Ultraman yang tayang pada 1966 dan dikembangkan oleh Tsuburaya Productions.
Perbedaan asal-usul tersebut menjadi salah satu fakta penting yang sering tertutup oleh kemiripan penampilan.
Jika Ultraman memiliki identitas dan mitologi tersendiri yang berkembang menjadi waralaba besar, Megaloman mempunyai dunia cerita sendiri dengan Takeshi Shishido sebagai tokoh manusia yang dapat berubah menjadi sang pahlawan.
Dari sisi kekuatan pun Megaloman mempunyai ciri khas yang membuatnya mudah dikenali.
Salah satu kemampuan paling unik adalah rambut panjangnya yang dapat mengeluarkan api dan digunakan sebagai senjata.
Rambut tersebut menjadi bagian penting dalam aksi pertarungannya, sehingga penampilannya terlihat sangat berbeda dibandingkan superhero raksasa lainnya.
Kemiripan Megaloman dengan Ultraman kemungkinan semakin terasa bagi penonton karena keduanya sama-sama menghadapi monster berukuran besar dalam format tokusatsu.
Adegan pertarungan manusia raksasa melawan monster juga menjadi daya tarik utama genre Kyodai Hero. Namun, kesamaan formula tersebut tidak berarti kedua karakter mempunyai hubungan produksi.
Di Indonesia, kesalahpahaman mengenai hubungan Megaloman dan Ultraman juga tidak bisa dilepaskan dari pengalaman menonton generasi lama.
Megaloman pernah dikenal melalui berbagai format video, termasuk kaset video dan media rekaman lainnya.
Bagi sebagian penonton, ingatan terhadap superhero Jepang pada masa itu bercampur dengan popularitas Ultraman sehingga julukan Ultraman Gondrong pun ikut melekat.
Menariknya, justru perbedaan itulah yang membuat Megaloman memiliki tempat tersendiri dalam nostalgia penggemarnya.
Ia bukan sekadar karakter yang menyerupai Ultraman, melainkan superhero dengan identitas, kekuatan dan latar cerita sendiri.
Rambut putih panjang serta kemampuan menghasilkan api menjadi tanda pengenal yang membuat sosoknya mudah diingat hingga sekarang.
Fenomena Megaloman juga memperlihatkan bagaimana budaya pop Jepang pernah begitu kuat memengaruhi imajinasi anak-anak Indonesia.
Inspirasi dari superhero Jepang bahkan kemudian melahirkan berbagai karya lokal, termasuk karakter dan komik yang mencoba menggabungkan konsep pahlawan super dengan unsur budaya Nusantara.
Artinya, pengaruh tokusatsu tidak berhenti pada tontonan, tetapi ikut membuka ruang bagi kreativitas generasi berikutnya.
Pada akhirnya, Megaloman dan Ultraman adalah contoh menarik tentang dua superhero yang terlihat mirip tetapi sebenarnya berbeda.
Keduanya sama-sama pahlawan raksasa dan sama-sama melawan monster, tetapi mempunyai studio, pencipta, sejarah serta dunia cerita masing-masing.
Bagi generasi yang pernah menyaksikan Megaloman, mungkin justru perbedaan inilah yang membuat sosok superhero gondrong tersebut tetap menarik untuk dikenang.