Diet Karnivora: Tren atau Ancaman Kesehatan?

Daging
Sumber :
  • pixabay

Padang – Diet karnivora, sebuah pola makan yang secara eksklusif hanya mengonsumsi produk hewani, kini sedang menjadi sorotan.

img_title Menatap Kembali Jejak Pandemi COVID-19: Antara Memori Kelam, Solidaritas, dan Kesiapsiagaan Kesehatan

Walaupun terkesan baru, ide di balik diet ini sebenarnya berakar dari teori evolusioner yang meyakini bahwa nenek moyang manusia adalah pemburu dan pemakan daging.

Para pendukungnya berpendapat bahwa sistem pencernaan manusia lebih optimal untuk memproses daging, lemak, dan protein hewani.

img_title Pentingnya Memilih Menu Sarapan Pagi yang Sehat dan Kunci Menjaga Keseimbangan Nutrisi

Sementara karbohidrat dari tumbuhan justru dapat memicu peradangan dan berbagai penyakit modern.

Pola makan ini secara praktis mengeliminasi semua jenis tumbuhan, buah-buahan, biji-bijian, dan sayuran.

img_title Isu Pertalite ada Semen: Pertamina Gandeng Lemigas dan Buka Layanan Pengaduan di SPBU

Popularitas diet karnivora mulai meroket di media sosial dan komunitas daring, didorong oleh testimoni pribadi dari para penganutnya.

Mereka mengklaim mendapatkan manfaat luar biasa, mulai dari penurunan berat badan yang drastis, perbaikan kondisi autoimun, hingga peningkatan energi dan kejernihan mental. 

Meski begitu, para ahli gizi dan kesehatan masih sangat skeptis.

Mereka khawatir akan dampak jangka panjang dari diet yang sangat restriktif ini.

Ketiadaan serat, vitamin, dan mineral penting yang hanya didapat dari tumbuhan bisa memicu masalah pencernaan dan kekurangan nutrisi.

Kekhawatiran lain adalah tingginya asupan lemak jenuh dan kolesterol, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Oleh karena itu, diet karnivora masih menjadi perdebatan sengit di dunia medis.

Apakah ini hanyalah tren sesaat yang berbahaya ataukah terobosan revolusioner, hanya waktu dan penelitian lebih lanjut yang bisa membuktikannya.