Menguak Misteri Kode Lampu Sein di Lintas Sumatra

Ilustrasi isyarat lampu sein bus
Sumber :
  • momobil.id

Padang – Pernahkah Anda merasa bingung saat membuntuti bus "Antar Lintas Sumatra" (ALS) atau NPM di jalur berkelok di lintas Sumatra? Di balik deru mesin dan kepulan asap hitam, terdapat komunikasi visual yang krusial namun sering disalahpahami oleh pengemudi mobil pribadi: kode lampu sein.

Bagi para "Sultan Jalanan" atau sopir bus Lintas Sumatra, lampu sein bukan sekadar penanda belok, melainkan nyawa bagi kendaraan di belakangnya. Jalur Sumatra yang didominasi tikungan tajam dan tanjakan curam membuat jarak pandang terbatas. Di sinilah kode sein mengambil peran.

Secara umum, terdapat dua kode utama yang wajib dipahami. Pertama, sein kanan saat di jalur lurus atau tikungan. Jika bus di depan menyalakan sein kanan namun tidak berbelok, itu adalah perintah "tahan". Artinya, ada kendaraan dari lawan arah atau kondisi jalan yang tidak memungkinkan Anda untuk menyalip. Jangan nekat keluar jalur jika tidak ingin berhadapan langsung dengan truk dari arah depan.

Kedua, sein kiri yang tetap menyala. Berbeda dengan aturan di kota, sein kiri di jalur lintas sering kali berarti "silakan masuk". Sopir bus memberikan sinyal bahwa kondisi di depan aman dan ruang untuk menyalip tersedia. Mereka biasanya akan sedikit menepi ke kiri untuk memberi jalan.

"Komunikasi ini adalah etika tak tertulis. Kami bantu pengemudi kecil (mobil pribadi) karena pandangan kami dari kabin bus lebih tinggi dan luas," ujar Anwar, salah satu sopir bus veteran rute Padang-Jakarta.

Namun, pengendara diingatkan untuk tetap waspada dan tidak bergantung sepenuhnya pada isyarat tersebut. Pastikan performa kendaraan dalam kondisi prima dan selalu jaga jarak aman. Memahami bahasa isyarat aspal ini bukan hanya soal kelancaran perjalanan, melainkan tentang menjaga keselamatan nyawa di jalur yang dikenal sebagai salah satu yang paling menantang di Indonesia.

img_title Kato Mandata, Etika Berkomunikasi dengan Sesama dalam Budaya Minangkabau