Harga Plastik Dunia Melambung, Pengusaha Laundry di Padang Terpaksa Naikkan Tarif
- IST
Padang – Tren gaya hidup praktis mahasiswa di Kota Padang, Sumatera Barat, mulai terusik. Terhitung sejak Selasa (7/4/2026), sejumlah pengusaha jasa pencucian pakaian atau laundry di kawasan sekitar kampus mulai memberlakukan penyesuaian tarif baru. Kenaikan ini memicu perubahan perilaku di kalangan mahasiswa yang kini mulai mempertimbangkan untuk kembali mencuci pakaian secara mandiri.
Lonjakan harga jasa ini bukan tanpa alasan. Para pengusaha laundry mengaku terpaksa menaikkan tarif akibat melambungnya harga plastik kemasan dalam sepekan terakhir. Plastik merupakan komponen vital dalam bisnis ini sebagai pembungkus pakaian bersih agar tetap rapi dan higienis hingga ke tangan pelanggan.
Kenaikan harga material plastik di pasar lokal diduga kuat merupakan dampak berantai dari meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat telah mengguncang stabilitas harga komoditas global, terutama minyak bumi yang merupakan bahan baku utama pembuatan plastik.
Seorang pengusaha laundry di kawasan Air Tawar, Padang, mengakui bahwa margin keuntungan mereka tergerus drastis jika tetap menggunakan tarif lama.
"Harga plastik pembungkus naik signifikan dalam tiga hari terakhir. Kami tidak punya pilihan lain selain menyesuaikan tarif jasa sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram untuk menutupi biaya operasional," ungkapnya.
Kenaikan tarif yang terjadi secara serentak di beberapa titik strategis, seperti kawasan Universitas Andalas (Unand) dan Universitas Negeri Padang (UNP), langsung dirasakan dampaknya oleh para mahasiswa. Bagi mereka yang hidup dengan uang saku pas-pasan, kenaikan tarif laundry menjadi beban tambahan yang cukup berat di tengah naiknya harga kebutuhan pokok lainnya.
Randi, salah satu mahasiswa semester akhir di Padang, mengaku mulai membatasi penggunaan jasa laundry. "Biasanya semua baju masuk laundry karena praktis dan sibuk kuliah. Tapi kalau harganya naik terus, ya terpaksa mulai mencuci sendiri di kosan. Uangnya lebih baik dialokasikan untuk makan atau keperluan tugas," keluhnya, Selasa (7/4/2026).
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda harga plastik akan kembali normal dalam waktu dekat. Para pelaku usaha berharap pemerintah daerah dapat memberikan atensi terhadap stabilitas harga bahan baku di pasar lokal. Di sisi lain, jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut, diprediksi harga produk turunan minyak bumi lainnya juga akan ikut terdampak.