Ternyata Bumbu Rendang Itu Bersifat Antiseptik
Ilustrasi Masak Rendang. Foto/Nugie-Padang Viva
- -
Metron juga menjelaskan, dalam memasak rendang, ada tiga tingkatan. Saat masih berkuah, namanya gulai. Lebih kental sedikit, namanya kalio. Baru setelah kering, namanya Rendang. Artinya, Rendang sejati adalah Rendang yang paling rendah cairannya. Namun secara umum, ada dua macam Rendang, yaitu Rendang Kering dan Rendang Basah.
Rendang kering kata Metron lagi, dimasak dalam waktu berjam-jam hingga santan mengering dan bumbu terserap sempurna. Rendang kering dihidangkan untuk perhelatan istimewa. Misalnya pada upacara adat, kenduri, atau menyambut tamu kehormatan.
Rendang kering berwarna lebih gelap agak coklat kehitaman. Jika dimasak dengan tepat, bisa bertahan tiga sampai empat minggu. Jika disimpan dalam kulkas, bisa bertahan sebulan. Bisa tahan enam bulan jika dibekukan.
Soal rasa tiada duanya, termasuk dibandingkan dengan rendang buatan Malaysia. Rendang basah disebut Kalio. Lebih singkat waktu bertahannya. Rendang basah berwarna cokelat terang keemasan dan lebih pucat. Jenis ini terkenal pula di Malaysia.
Menurut Metron, di negeri tetangga itu, masaknya lebih singkat dan dikenal dengan Rendang Kelantan dan Rendang Negeri Sembilan. Memasaknya dengan menggunakan kelapa parut yang digoreng. Di Belanda, juga ada Kalio. Penyajiannya sebagai lauk-pauk saja. Rendang bisa sampai ke sana karena Belanda lama menjajah Indonesia.
Ilustrasi Rendang. Foto/Nugie-Padang Viva
- -
Secara wilayah, di Minangkabau Rendang terbagi dua, yaitu rendang darek dan pasisia. Darek artinya ‘darat’, maksudnya daerah seperti Bukittinggi dan Payakumbuh. Sementara itu, pasisia berarti ‘pesisir’, misalnya daerah seperti Padangpariaman atau Pasaman. Yang membedakan hanyalah bumbunya.
“Rendang darek memiliki bumbu yang lebih sederhana. Begitu juga cara memasaknya. Di pesisir, bumbunya kaya dengan rempah sehingga aromanya lebih terasa. Namun, karena dianggap sebagai makanan adat, rendang diyakini berasal dari darat,“tutup S. Metron Masdison.