Mengapa Harimau Begitu Dihormati di Jabar dan Sumbar? Ini Alasannya

Harimau Sumatera
Sumber :
  • Padang Viva / Andri Mardiansyah

Padang – Harimau bukan sekadar predator puncak dalam ekosistem hutan Nusantara. Bagi masyarakat Jawa Barat (Jabar) dan Sumatra Barat (Sumbar), kucing besar ini menempati posisi yang sangat sakral. Hingga hari ini, simbol harimau melekat kuat dalam identitas budaya, spiritualitas, hingga tatanan sosial kedua suku tersebut.

img_title Mangsa Kambing Warga, Harimau Sumatra di Agam Akhirnya Masuk Kandang Jebak BKSDA Sumbar

Meski dipisahkan oleh letak geografis dan selat yang luas, masyarakat Sunda di Jabar dan masyarakat Minangkabau di Sumbar memiliki kesamaan corak kebudayaan dalam memandang harimau. Hewan ini tidak dilihat sebagai ancaman yang harus diburu, melainkan sebagai sosok penjaga moral, lambang kekuasaan yang bijaksana, serta perwujudan roh leluhur yang dihormati.

Di Tanah Pasundan, harimau lebih dikenal dengan sebutan maung. Kepercayaan masyarakat Jabar terhadap simbol harimau tidak bisa dilepaskan dari kosmologi masyarakat Sunda kuno dan legenda Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.

img_title Adat Babuhua Sentak, Aturan Minangkabau yang Bisa Menyesuaikan Perubahan Zaman

"Bagi orang Sunda, harimau adalah simbol keberanian, kewibawaan, dan keadilan. Kami mengenalnya melalui kisah Maung Bodas atau Harimau Putih," ujar pengamat budaya Sunda, Dadang Hermawan, dalam sebuah diskusi kebudayaan di Bandung.

Menurut cerita rakyat yang turun-temurun, saat Prabu Siliwangi mendesak mundur ke hutan bersama para pengikutnya, mereka tidak punah melainkan bertransformasi menjadi harimau putih. Sejak saat itu, simbol harimau bertransformasi menjadi penjaga spiritual hutan-hutan di Jawa Barat.

img_title Adat Nan Babuhua Mati, Fondasi Aturan Minangkabau yang Tak Lekang oleh Zaman

Hingga kini, simbol maung diaplikasikan secara luas di Jawa Barat. Mulai dari lambang Kodam III/Siliwangi, julukan klub sepak bola legendaris Persib Bandung (Maung Bandung), hingga berbagai ornamen patung di gerbang desa atau institusi pemerintahan. Harimau di Jabar mewakili karakter manusia Sunda yang tenang, berwibawa, namun mematikan ketika kehormatannya diusik.

Bergeser ke Ranah Minang, masyarakat Sumatra Barat memiliki relasi yang tidak kalah mistis dengan harimau. Di Sumbar, satwa langka ini dipanggil dengan sebutan kehormatan seperti Inyiak, Ampang Kanamo, atau Datuak. Mengucapkan kata "harimau" secara langsung di dalam hutan bahkan dianggap tabu oleh masyarakat setempat.

Masyarakat Minangkabau percaya bahwa harimau, atau Inyiak Balang, adalah penjaga kampung (parik paga) dan pengawal hukum adat. Hubungan antara manusia dan harimau di Sumbar diatur dalam sebuah "perjanjian gaib" yang tidak tertulis. Selama manusia tidak merusak hutan dan tidak melanggar norma adat, maka Inyiak tidak akan pernah mengganggu.

Halaman Selanjutnya
img_title